Memaafkan diri sendiri

781

Kalau baru pertama kali bertemu denganku, pasti akan mengira kalau wanita ini hanya mengalami hal-hal yang baik dalam hidup. Bisa jadi sih, karena sepertinya sejak dulu aku termasuk (sangat) santai dan tidak pernah terlalu membesar-besarkan sebuah masalah, bahkan cenderung melupakannya. Bahkan sampai dengan kuliah semester awal, seorang dosen pernah bertanya, "Apa masalah kamu dalam hidup ini?"

Dan aku yang enggak bisa langsung jawab gitu. Karena sepertinya, semua masalah yang aku alami saat itu bukan masalah yang membuat tertekan. Paling cuma pusing karena masalah kuliah. Walaupun uang jajan pas-pasan, tapi aku enggak pusing mikirin biaya kuliah, enggak pusing sama masalah keluarga. Intinya enggak ada masalah yang bisa membuat aku sedemikian tak berdayanya.

Tapi seperti halnya janji Allah yang akan menguji setiap ummatNya, itulah yang terjadi padaku.

Well, tulisan ini bukan akan berisi curhatan masa lalu, jadi jangan harap aku akan menceritakannya di sini. Hehehe....

Intinya, ada pada satu titik di mana aku berada di titik nol, tidak memiliki apapun. Gelar kuliah pun jadi percuma dan tidak ada artinya. Ketika aku ditarik dari peredaran kehidupan sosial, dikurung di dalam rumah dan tidak boleh pergi kemanapun.

Pada satu titik ini, aku sudah merasa kalau ada satu sayapku yang sudah patah dan tidak akan pernah bisa disembuhkan kembali, yaitu semangat berusaha. Aku jadi terbiasa bersembunyi di balik punggung seseorang untuk menyelesaikan semua masalah yang ada. Dan aku terbiasa hidup nyaman. tanpa tantangan, tanpa aku sadari apa yang sebenarnya terjadi pada jiwaku.

Saat itu, aku pun menulis, walaupun belum mengetahui yang namanya Writing Therapy. Well, it helps! Setidaknya, walaupun hidupku pada kenyataannya tidak seperti yang aku harapkan, kisah di dalam tulisanku bisa memiliki akhir yang lebih membanggakan dan membahagiakan.

Walaupun secara kasat mata semuanya sudah tampak normal dan baik-baik saja, ada saat di mana aku selalu menyalahkan diri sendiri ketika situasi di sekitar aku tidak seperti yang diharapkan. Ketika aku tidak bisa melakukan pekerjaan paling mudah, ketika rasa malas sangat menguasai diri sehingga selalu menunda-nunda pekerjaan, ketika merasa tidak berdaya membantu perekonomian keluarga dan melihat suami bekerja membanting tulang sampai kurus susah gemuk. Saat-saat tidak berdaya seperti itu biasanya aku selalu menyalahkan diri sendiri, merasa kecewa, merasa hidup ini tidak ada artinya. Apalagi keluarga kecil kami belum dikaruniai anak.

Seringkali aku selalu menipu diri sendiri, kalau itu bukan masalah yang perlu dipusingkan. Lupakan saja. Pendam dalam-dalam. Dan ternyata, hal itu merupakan bom waktu. Dan aku harus menemukan solusinya sebelum benar-benar meledak. Untung saja Barokallah, sudah takdirnya, aku mendapatkan kesempatan mengetahui tentang DELIMA PROJECT.

Jadi, pada sebuah workshop Writing Therapy oleh Delima Project yang aku ikuti, hari Sabtu tanggal 4 Februari 2017 kemarin, hal-hal yang pernah terjadi pada kita, yang merupakan masalah yang belum selesai, atau dengan kata lain "unfinished business", itu pasti akan tersimpan di dalam memori alam bawah sadar kita. Dan sadar atau tidak sadar, terkadang hal itu tergali kembali ke permukaan. Misal, membuat kita tiba-tiba merasa sangat sedih tanpa sebab, merasa ingin menangis tanpa sebab, merasa kesal tanpa sebab. Ternyata emosi ini merupakan bagian dari memori yang terekam di dalam alam bawah sadar. Dalam sesi workshop ini, terdapat 3 tahapan yang disampaikan oleh 3 trainer yang berpengalaman di bidangnya masing-masing.

Dari workshop inilah aku menyadari kalau semua masalah yang aku pikir sudah selesai dan tidak perlu dipikirkan, ternyata masih tersimpan di dalam alam bawah sadarku. Dan terkadang hal itu berpengaruh pada kondisi emosi, di mana aku tiba-tiba menjadi sedih tanpa sebab, gelisah, dan emosi lainnya. Dalam workshop ini, selain dijelaskan mengenai teorinya, para peserta workshop langsung diberikan praktek untuk menuliskan sebuah Dialog Journal Therapy, dengan seseorang yang kita rasa ingin kita selesaikan masalahnya. Dan uniknya, hanya dalam waktu kurang lebih 30 menit, sebuah percakapan mengalir di dalam tulisan kita yang tadinya tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Air mata pun tak kuasa tertahan ketika menuliskannya. Rasanya seperti sedang berbicara langsung. Padahal mungkin saja ketika saya benar-benar sedang berhadapan dengan dia, mulut saya akan terkunci rapat dan tidak bisa mengutarakannya dengan baik.





Ya, ternyata menuliskan semua perasaan yang selama ini kita pendam lebih mudah daripada memikirkannya. Kalau hanya dipikirkan, sudah capek ditambah stress, hati malah bertambah gelisah. 

Seseorang boleh saja tampak tenang di luarnya, namun tidak ada seorang pun yang bisa mengukur kedalaman hati seorang manusia kecuali Allah, Tuhannya Manusia. Namun, ada kalanya diri sendiri pun tidak memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirinya. 

Sebelumnya, mungkin kita pernah mendengar yang namanya Writing Therapy, dan kita mencoba untuk melakukannya seorang diri. Tapi ternyata hal itu tidak cukup. Karena perjalanan jiwa setiap anak manusia itu berbeda-beda, sehingga memerlukan penanganan yang juga tepat. Itulah nilai plus dari Delima Project ini. Selain kita dibimbing untuk menulis, kita pun akan dibimbing oleh psikolog yang sudah ahli di bidangnya. Kita pun akan semakin mudah menggali jiwa kita yang terdalam. Mungkin sebagai contoh saya sendiri. Saya selalu merasa tidak ada masalah dengan diri saya. Walaupun hidup memang terkadang up and down, just like a roller coaster, tapi aku bahagia dengan hidupku saat ini.

Namun ada saatnya, di mana terkadang aku merasa sedih, down dan tidak berdaya, bahkan seringkali menyalahkan diri sendiri yang tidak memiliki keahlian atau kelebihan apapun. Tidak bisa melakukan segala sesuatu dengan baik, tidak bisa kerja dengan baik, anak manja yang tidak bisa melakukan apapun dengan baik. Ya ampun, menuliskan kalimat ini saja sudah membuat aku menitikkan air mata. Iya, terkadang ada saat di mana aku merasa tidak bisa melakukan apapun dengan baik, terlalu bergantung pada orang lain. Beruntung saat ini aku memiliki suami yang sangat penyayang. Mau seceroboh apapun, dia tetap sayang. (Ya iyalah, udah jadi istri atuhlah, masa enggak disayang?)

Jadi, intinya, setelah mengikuti one day workshop ini, aku jadi memahami apa yang selama ini kadang terasa mengganggu. Walaupun mungkin belum sepenuhnya selesai, karena berhubungan dengan orang lain, tapi setidaknya aku sudah memahami sesuatu. Secara bertahap, semuanya butuh proses, pasti akan selesai dengan baik.

Jadi, pertanyaan besarnya, apa itu DELIMA PROJECT?

ki-ka : Nuzulia Rahma, Deka Amalia, Risma El Jundi
Founder Delima Project


Delima Project diinisiatori oleh Deka Amalia, Nuzulia Rahma dan Risma El Jundi sejak 2016 dan launching pada Februari 2017.

  • Deka Amalia (Dosen Sastra, Trainer dan Founder Women Script Community)
  • Nuzulia Rahma Tristinarum (Praktisi Psikologi, Trainer, Therapist)
  • Risma El Jundi (Novelis, Penulis buku motivasi dan memoar, Trainer Private Writing, Founder care GBS)
Program yang memfokuskan pada terapi jiwa yang dituangkan lewat teknik menulis.
Program Writing Therapy DELIMA PROJECT terdiri dari:
  1. 1 day Workshop
  2. 2 days Workshop
  3. 3 days Workshop
  4. 3 months Training.
Harapan setelah mengikuti Writing Therapy, peserta akan menghargai perjalanan jiwanya. 
Mensyukuri perjalanan hidupnya.
Menerima perasaan yang hadir.
Menyayangi diri sendiri.

suasana di kelas workshop

Dalam workshop ini, beberapa hal yang paling membekas di dalam diri saya adalah

  1. KENALI DIRI SENDIRI. Kami satu persatu ditanyakan, "Siapakah kamu?" Tentu saja awalnya saya bingung harus menjawab apa. Akhirnya saya jawab sesuai bio media sosial yang selama ini saya tulis, "I'm a very lucky wife." Karena sepertinya, satu kalimat itu memang merupakan semacam motivasi untuk saya agar lebih bersyukur, dengan satu karakter saya yang sebenarnya gampang banget menyerah kalau kondisi tidak seperti harapan. Ternyata kalimat yang pernah asal saya tulis itu, benar-benar mempengaruhi kejiwaan saya. Jadi, saya semakin mengenali diri sendiri, "Yes, you're a very lucky wife, Ninna." 
  2. MAAFKAN DIRI KAMU SENDIRI. Ya, mungkin saja kita bisa memaafkan orang lain. Namun, terkadang kita lengah untuk memaafkan diri sendiri. Terkadang kita terlalu keras pada diri sendiri, sehingga justru malah membuat kita menjadi lebih tertekan dan gelisah. 
  3. TERUS MENULIS. Menurut Graham Greene : "Writing is a form of therapy; sometimes I wonder how all those who do not write, compose, or paint can manage to escape the madness, melanchonia, the panic and fear which is inherent in a human situation." Menulis merupakan semacam terapi; Terkadang saya heran bagaimana mereka yang tidak menulis, menggubah, atau melukis dapat mengatasi kegilaan, melankonia, rasa panik dan takut yang melekat di dalam situasi manusia. Jadi, teruslah menulis, sebagai terapi hati dan pikiran, dan tentu saja menstabilkan rasa penat.
Semua peserta workshop bersama trainer


Sekian curhat dari saya. Semoga info ini bermanfaat. Oh ya, ingin tahu lebih lanjut tentang DELIMA PROJECT? Please leave a message ya ;) Atau bisa menghubungi DEKA AMALIA RIDWAN, Facebook Deka Amalia Ridwan.






Komentar

  1. Hallo mba, salam kenal sebelumnya.. aku mau tau lebih lanjut ttg delima project.. berasa sama tp I don't know how to start hehehe kalau berkenan boleh tolong email ke uchysudhanto@gmail.com terima kasih.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak, sudah saya sampaikan langsung ke Delima Project ya. Tunggu saja ya 😊

      Hapus
  2. Jadi pengen ikutan workshopnya euy, gimana caranya? Kapan ada lagi teh? Kya nya aku masih banyak unfinished bussiness nih, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa di add FB Deka Amalia Ridwan ya mbak

      Hapus
  3. "The unfinished business" memang PR yg harus dituntaskan yak..walopun kita pura2 lupa, tapi bakal terus menghantui 😢

    Salam kenal btw,
    Tatat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga ya mas 😊

      Hapus
  4. Mbak @Uchy , siap mbak, tunggu ya emailnya

    BalasHapus
  5. mbak @Fera dan mas Tatat @JejakKatumbiri, iya, tanpa sadar unfinished business itu terus menghantui hidup kita ya... Saya aja baru tahu setelah ikut terapi ini, kalau masalah yang belum selesai itu harus diselesaikan...

    BalasHapus
  6. Bener banget, ketika perempuuan berpendidikan tinggi dan terkungkung well sepertinya perlu penceraham seperti dirimu mbak haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi memang yang namanya mental harus selalu di maintain, mbak. Kadang satu saat kita sudah sembuh. Tiba-tiba di saat lain, nge down lagi...

      Hapus

Posting Komentar

Hallooo, senang banget kalian sudah mampir dan memberikan komentar di sini ^^

Popular

Bali Honeymoon Day1

Selain Cantik, Muslimah pun Butuh Sehat dan Fit

Under The Sky