Merdeka!

781

Tujuh belasan kamu ngapain aja seharian ini? Kalau aku sih ngendon aja di dalam kamar. Maksudnya mau mengejar deadline, tapi apa daya hanya bisa nulis empat paragraf. Hahahaha... #Dicambuk

So, mainlah saya ke lantai bawah, karena saya tinggal di lantai atas (pokoknya berasa tinggal di apartemen, deh!). Lalu, saya pun disuguhkan cerita yang membuat saya mengelus dada. Untungnya nggak yang membuat jantung saya dag-dig-dug nggak karuan sih.

Jadi, ibu mertua cerita kalau terjadi sesuatu pada anaknya mbak yang kerja di rumah.

"Tadi ada Dona ke rumah," kata ibu mertua menyebutkan nama anaknya si mbak yang tinggal di Jakarta juga, "Ada kejadian sama anaknya mbak, si Desti, di kampung. Makanya Mbak harus ke Jawa hari ini juga. Dan nggak tahu bakalan sampai kapan selesainya. Tapi semoga aja cepet."

Agak kaget sih dengarnya, tepatnya karena langsung kepikiran, aduh, berarti besok masak sendirian. Hahaha... Yang ini jangan terlalu dianggap serius.

"Kenapa, Mah?" tanyaku.

"Nggak tahu, tapi katanya Desti kenapaaa gitu. Kan, emang Mbak pernah cerita kalau lebaran kemarin dia berantem besar sama si bapak, terus diusir dari rumahnya. Padahal kan di kampung itu rumahnya dia. Makanya mbak kan juga pernah cerita kalau pengen bawa Desti ke Jakarta, tapi kasihan yang paling kecil." cerita ibu mertua.

"Terus?"

"Kan, biasanya juga Desti kalau mau makan minta sama kakaknya, Winda ya. Nah, ini sama bapaknya dilarang, katanya kalau minta makan ke sana, bakal nggak diaku anak lagi. Yaudah, Desti nurut. Malah katanya kalau Desti mau makan, disuruh minta aja ke tetangga."

"Ya ampun, masa minta ke tetangga."

"Iya, makanya si mbak sering denger dari cerita tetangga kalau Desti sering keliling ke tetangga minta makanan."

Sampai di situ, aku ngedengernya jadi miris. Ya ampun, kok tega banget sih orang tua kayak gitu. Dengan kata lain kan itu ngajarin anak mengemis.

"Nggak tahu deh, si Desti kenapa, tapi si Mbak musti pulang ke kampung, terus nanti Desti dibawa ke Jakarta. Tapi kalau Desti dibawa, yang bungsu kasihan, jadi harus dibawa juga. Nah, kalau udah gitu, si bapak juga pasti ikut ke Jakarta. Ngapain juga dia di sana kalau udah nggak ada anaknya."

Di situ, aku pun puyeng, "Yang bungsu masukin pesantren aja." saranku dengan enteng, padahal kan sekarang udah telat kalau mau masukin anak sekolah. Biayanya berapa coba? Dan, cerita pun terus bergulir, tanpa ada penutupan. Karena intinya kan, mbak harus pulang ke kampung, jadi mulai besok di rumah harus bersabar nggak ada mbak selama beberapa hari.

AKU PASTI BISA!

Lalu....

Dengan cerita ini, aku jadi sadar, betapa beruntungnya diriku. Suamiku masih bertanggung-jawab, mencari nafkah. Walaupun galak dan aku sering diomelin, tapi suami nggak main tangan, dan dia juga cepat minta maaf. Suatu hari aku pernah bilang ke suami, kalau aku sakit hati sama ucapannya. Awalnya memang dia nggak mau ngalah dan nggak mau disalahin. Namun pada akhirnya, dia tetap minta maaf, dan bilang kalau aku merupakan orang yang paling berarti baginya, paling dia sayang, intinya bikin aku ge-er saat itu. Walaupun tetep kesel setiap kali mengingat ucapannya itu.

Kemudian, walaupun sampai saat ini kami belum dikarunia anak, tapi seharusnya aku tetap bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang. Maksudku, banyak diluar sana wanita-wanita yang sampai dengan usiaku, mereka belum menikah. Atau wanita-wanita yang disakiti oleh suami mereka, seperti mbak yang kerja di rumahku ini.

Atau mungkin saja, ada wanita yang suaminya benar-benar baik, mencukupi nafkah lahir dan batin, tidak selingkuh, tidak main tangan. Namun ternyata, umur suaminya tidak panjang. Berkaca dari itu, daripada nanti menyesal, aku memutuskan untuk memperlakukan suamiku dengan yang terbaik. Mungkin akan sulit, karena hati perempuan itu drama. Nggak diperhatiin dikit, drama. Uang bulanan kurang, drama. Suami pulang malam padahal lembur, drama. Aku akan berusaha mengurangi drama-drama itu. Menghadapi laki-laki yang selalu pakai logika, mending kita logikain aja lagi. Tanpa menyakiti egonya. Kayak misalnya kita minta kenaikan uang bulanan, ada baiknya kita bikin proposal terlebih dahulu. Pengeluaran apa saja yang sudah pasti setiap bulannya. Kemudian kita ajukan dengan mencantumkan kita butuh berapa banyak tiap bulannya. Beres kan? Tinggal negosiasi deh!

Heee... maaf kalau tulisannya jadi ngalor-ngidul. Intinya sih, di hari kemerdekaan ini, aku ingin menyampaikan, bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki sekarang. Jangan tergoda dengan keadaan suami orang yang katanya perhatian, sering nelepon, sering nanyain kabar tiap hari, mau jemput kita kalau lagi dimanapun. Karena belum tentu wanita itu tidak diselingkuhin sama suaminya, atau tidak ditampar sama suaminya. Atau jangan tergoda dengan foto anak-anak orang lain yang beredar di status medsos, sedangkan kamu sendiri belum punya anak. Belum tentu juga dia nggak diuji oleh anaknya tersebut. Bisa aja kan dia lagi khawatir karena anaknya sakit. Jangan tergoda dengan kemapanan finansial yang dipamerkan oleh orang lain di medsos, dengan posting foto-foto traveling, atau gosip jalau gajinya sudah puluhan juta padahal cuma jadi seleb Instagram tapi dengan konten yang bikin mengelus dada.

Jadi intinya..., Just be the best you, in any other way. Lakukan saja yang terbaik yang kau bisa, dan biarkan Allah yang membuka jalannya. Always count your blessings. Dan pasti kamu akan merasa merdeka karena tidak merasa terbebani oleh dunia. (penulis juga masih berusaha mendalami ini)

And HAPPY INDEPENDENCE DAY INDONESIA

WITH LOVE




Komentar

Popular

Bali Honeymoon Day1

Selain Cantik, Muslimah pun Butuh Sehat dan Fit

Under The Sky