Jumat, 23 Juni 2017

MISTERI JODOH


Dulu waktu sebelum menikah, aku selalu bertanya-tanya, "Aww..., siapa ya kira-kira yang bakalan jadi soulmate aku?" Menunggu dengan penasaran kapan saat itu akan tiba. Eh, setelah akhirnya saat itu tiba, kemudian tahun-tahun berlalu, yaah... ada kalanya hati ini terheran-heran, "Kenapaa gue bisa jodoh sama dia?" Well, karena di kasusku, bisa dibilang, aku dan suami berasal dari dunia yang berbeda, pergaulan yang berbeda. Singkat kata, kalau misalnya kita masih sekolah atau kuliah, dia akan banyak menghabiskan waktu cabut dari sekolah, sedangkan aku sebaliknya. Dan singkat kata juga, kemungkinan besar kita akan beda sekolah atau kampus. Jadi gimana mau ketemu? Hahahahaha.... (Ini seriusan, kita emang beda sekolah, beda angkatan pulak).

Kemudian seperti kebanyakan suami istri pada umumnya (kemungkinan besar), ada saat di mana kita berdua saling bercerita tentang masa lalu, tentang saat-saat pertama kali kita berkenalan, kemudian kencan pertama (cie kencan, ketemu pertama kali maksudnya), dan sampai pada memori ketika kapan tepatnya kita memutuskan untuk menikah.

Untuk awal, ada satu kenyataan lagi yang harus kalian ketahui sebelum kita memulai cerita ini. Aku dan suami dijodohin. Well, bukan dijodohin khas jaman Siti Nurbaya sih, yang dipaksa harus mau. Atau macam taaruf yang kita benar-benar tidak boleh ketemu berduaan aja sama si dia. Perjodohan kami bisa dibilang... fleksibel. Dalam artian, orang tua bilang, "Nih, ada material bagus lho. Papi Mami kenalin. Gih, kalian PDKT. Kalau cocok lanjut, kalau ga cocok ya sudah." Kurang lebih seperti itu.

Jadi, long story short, aku dan suami akhirnya ketemu nih untuk pertama kalinya, setelah on-off komunikasi di Yahoo Messenger. Saat itu bulan Maret tahun 2010. Mama sudah sakit selama empat bulan. Masih rutin terapi akupunktur listrik pasca stroke. Dan sudah selama itu pula aku enggak keluar kemana-mana, full time ngurus Mama di rumah. Ya, barengan lah sama kakak ipar, tapi aku yang nemenin tidur di kamar, bertiga sama bapak. Berempat deng sama Fathan, ponakan yang paling tua (Enggak ada yang nanya). Bosen? Pasti! Depresi? Untungnya enggak. Need romance? Definitely! (Hahahaha...) Heart Broken? Yup! (Kalian pasti enggak percaya kalau aku pernah dibohongin sama percintaan dumay! Oh no-no, aku enggak akan cerita yang satu itu!) OK, balik ke cerita.

Kami berdua janjian bertemu di Plaza Indonesia. Aku pun mencoba untuk tampil sebaik mungkin. Yang sebenarnya gagal sih (kalau aku ingat-ingat lagi kostum aku saat itu enggak banget. Hehehe). Tapi karena baru pertama kali bertemu, aku enggak bakalan tahu dong kalau sebenarnya suami itu FASHION POLICE. Jadi, anggaplah saat itu pakaianku... just okay. Saat pertama kali ketemu suami, yah... rada kecewa sih. Soalnya ternyata orangnya kecil. Tapi ya sudahlah, jalanin aja. Udah janjian juga. Setidaknya dapat makan gratisan. Obrolan kami berjalan dengan lancar, diselingi sambil makan di sebuah restoran. Sampai dengan selesai makan, sebenarnya aku masih merasa biasa aja, dan sempat berpikir, sepertinya enggak bakalan ada date kedua lagi.

Lalu kemudian ada momen ini!

I know it must be sound very cheesy. Saat itu kami sudah selesai makan, dan sedang naik eskalator. Saat itulah momen itu terjadi, ketika aku melihat wajah si dia dari samping. KLIK! Eh, manis juga (dengan latar musik first love Utada Hikaru)Begitu kata hatiku saat itu. Iya, profil wajahnya bagus, hidungnya mancung, manis deh. Ya, okay... hati gue enggak nolak. So? So,  dinikmatin aja sisa kencan hari ini. Lihat gimana besok, dia bakalan ngajak ketemu lagi apa enggak. Kalau ngajak ketemu lagi, terima. Tapi kalau enggak, enggak masalah. Dan ternyata si dia ngajak ketemu lagi! Tapi sayangnya saat itu aku lagi jenguk Tante yang dirawat di rumah sakit. Padahal dia besok udah harus pergi ke Palembang. Jadilah pertemuan kedua kami ditunda. Tapi untungnya kami masih komunikasi melalui SMS. (Iya, padahal udah booming BBM tapi kami berdua masih setia dengan SMSan ^^)

Nah, selama menunggu dia balik lagi ke Jakarta. Aku masih janjian sama cowok-cowok lain yang dikenalin ke aku. (Iya dong kita pilih-pilih. Dih, kesannya kayak banyak banget ya. Eh tunggu... kayaknya enggak ada lagi deh. Belum ada lagi yang ngenalin ke siapa-siapa. Hahaha...) Iyalah, aku masih sibuk ngurusin Mama keleus. Sampai akhirnya dia balik lagi dari Palembang dan kita janjian ketemu untuk kedua kalinya.

Kencan kedua pun berjalan dengan lancar. Enak malahan. Dalam satu hari itu aku ditraktir makan dua kali. Begitu datang langsung makan, jalan-jalan, nonton, jalan-jalan, eh laper lagi. Jadilah makan lagi. Hahahaha.... (Memanfaatkan banget ya!) Sampai detik itu, aku belum ada feeling apa-apa dengan suami. Cuma hatiku enggak nolak. Sama cowok yang lain biasanya langsung nolak dan ogah ketemu lagi. Jadi dengan kata lain, si dia masih sebagai alternatif lah (padahal enggak ada alternatif lainnya). Dan tiba-tiba aja aku mimpiin si dia.

Eiiitss..., jangan ngeres dulu ya! Di dalam mimpi itu aku cuma lihat dia pakai baju putih kok. Dan entah kenapa, saat itu aku merasa nyaman. Begitu bangun, aku pun membulatkan pilihan. OK, aku akan fokus ke dia.

Sekarang, intermezzo dulu.

Bisa dibilang, sebagai seorang perempuan, aku termasuk agresif (kalau sudah ada maunya).

Nah, balik lagi ke cerita.

Jadilah aku fokus ke si dia dong. Aku rajin SMS, rajin nelepon. Kalau nelpon bisa lah frekuensinya nyamain kayak dosis minum obat. Kalau SMS enggak kehitung. Aku aja malas ngitungin. Lagian juga udah lupa. Hehehe....

Padahal nih ya, kayaknya belum ada deh sebulan kita SMSan PDKT. Tapi emang dasar akunya enggak sabaran, kesel sih tepatnya. Masalahnya bahasa SMSnya udah nyerempet-nyerempet pakai beb, sayang, tapi aku ngerasa kalau hubungan kami belum resmi juga. Jadi kayak terkatung-katung gitu. OK, katakanlah aku orang yang kaku. Mungkin bahasa bebeb atau sayang buat anak-anak gaul biasa kali ya. Jadi aku yang geregetan gitu. Lambreta nih! Iya sih, aku tahu kalau kita berdua dikenalin itu dengan tujuan untuk menikah, bukan untuk pacaran. Tapi SMS itu cowok enggak maju kemana-mana. Muter-muter aja ngomongin, "Lagi ngapain? Udah makan? Udah Sholat? Gimana kerjaan?" Bah! Aku terlalu tua buat chit chat macam itu.

Sampai akhirnya aku mancing dia tentang impian pernikahan dia kayak gimana ketika di telepon. Ya, dia jawab dong. Jawabannya ala-ala pernikahan luar negeri gitu deh. Tamunya sedikit, pengantinnya bisa bolak-balik di antara para tamu undangan, ada tarian, exclusive deh. Dan aku yang ho oh-ho oh aja. Karena sebenarnya bukan itu misinya. Itu hanya umpan. Terus tiba-tiba pulsanya abis. Jadilah kami terusin aja melalui SMS.

Nah, di SMS ini aku melontarkan pertanyaan ini.

Abby mau nikah kapan?

Agak lama SMSnya enggak dijawab. Belakangan aku baru ketahui kalau saat itu suami lagi nanya dulu ke ibunya.

Dia : "Mah, masa ditanyain kapan mau nikah."
Mama dia : "Ya udah jawab aja maunya kapan. Susah amat."

Maka, SMSnya pun dijawab. Begini jawabannya.

Aku mau nikah 101010

Dan entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku jawabnya kayak gini.

Wah, sebentar lagi dong. Tapi aku belum ada uang.

OK, sampai di sini, kalian pasti belum ngeh deh dimananya yang aneh dari balasan SMS itu. Coba scroll lagi ke atas, bagaimana status kami berdua saat itu. Yep, masih PDKT. Dan aku dengan PDnya bilang, "Tapi aku belum punya uang."

Belakangan aku juga baru mengetahui, kalau pada saat suami membaca pesan balasan itu, dia yang terheran-heran gitu. Pengen banget dia balas, "Emang yang bilang mau nikah sama lo siapa?" Untungnya dia masih bermurah hati dengan mengikuti saja permainan takdir ini.

*****

Selama ini, aku selalu merasa kalau aku itu dijebak sama suami. Aku enggak suka cowok merokok. OK, dia ngaku enggak ngerokok. (Padahal waktu pertama kali ketemu ada sebungkus rokok jarum super di kantong bajunya). Dia memberikan kesan seperti cowok alim yang sejauh ini memang hanya jenis cowok ini yang aku ketahui dengan baik. Sholat subuh di masjid (Alhamdulillah). Sholat awal waktu. Tapi sayangnya aku belum pernah dengar dia baca Alquran. Tapi sih, saat itu dia pasti bilangnya bisa. Terus udah gitu, dia tuh yang royaaaal banget. Aku dibeliin sepatu lebih dari lima ratus ribu. Dimana dalam kondisi normal aku enggak bakalan pernah beli sepatu seharga itu. Iya, sampai tujuh tahun pernikakan, itu sepatu termahal yang aku pernah beli. Hahaha.... Dibeliin jam tangan couple harganya jutaan. Kalau jalan, pasti makan ditempat enak. Wih, baek banget dah. Enggak pernah marah. Oh iya, catat, ya. ENGGAK PERNAH MARAH. Padahal aslinya dia bawel banget. Aku sering diomelin. Hiks. Yang lucunya, kalau aku habis diomelin, terus aku nemplok minta maaf, sama dia tetap dimaafin sambil dipeluk-peluk, tapi tetap sambil dibawelin, sampai kuping panas. Tapi ya sudahlah.

Dalam perjalanan tujuh tahun ini, tentu saja banyak banget hal-hal yang bikin aku kaget sama dunia dia yang sebenarnya. Karena bagi aku benar-benar asing gitu. Walaupun selama kerja aku sudah melanglang buana di jagat Jakarta Raya, tapi pada kenyataannya ternyata aku masih POLOS, enggak tahu apa-apaan. Beberapa kenyataan tentu saja membuat aku kecewa, karena kalau sebelumnya aku tahu, aku pasti enggak akan mau nikah sama dia. Jadi wajar dong kalau aku merasa dijebak?

Tapi, kalau kita membaca lagi kisah di atas, sebenarnya justru aku yang menjebak dia kan? Iya, dia kalau lagi cerita itu pasti bilangnya dia dijebak sama saya. Jadi enggak berkutik. Tentu saja aku yang terheran-heran gitu. Oh ya? Gue sepintar itu gitu bisa menjebak orang? Dia kalau lagi cerita ke teman-temannya, pasti selalu berkelakar kalau dijebak sama aku. Lagian justru dia harus berterima kasih sama aku kali. I was helping him skipped all the boring steps. Ye kan? Enggak ada yang namanya dag dig dug penembakan. Enggak ada yang namanya dag dig dug mau lamar tapi takut ditolak. Yeah, I was helping him a lot. So, he owned me big time!

Terus besoknya pas dia telepon, dia bawel ke aku, nanyain udah nyari gedung apa belum. Dan pas dia nanyain itu aku yang gagap gitu. Ya, belum nyarilah, ngumpulin nyawa dulu. Ngerasa dijebak tapi yang paling semangat dia. Iisshh! Mau ga mau hari itu juga aku minta dianterin kakak ipar buat cari gedung. Secepat itu prosesnya? Yep, secepat itu. Kalau jodoh emang enggak bisa ditebak sih. Makanya sampai detik ini aku masih sering amaze dengan hal ini.

*****

OK, kayaknya sekian cerita dari aku ya. Intinya sih, jodoh itu termasuk dalam takdir manusia kan ya. Tapi ternyata, jodoh merupakan takdir ikhtiar. Jadi harus diusahakan. Kalau kita memiliki kriteria tersendiri untuk calon suami, kita harus ngaca dulu ke diri sendiri. Misal, kita mau punya suami yang saleh kayak Teuku Wisnu. Nah, coba berkaca pada diri sendiri, bagaimana dengan diri kita? Apakah tingkat keimanan kita sudah sama dengannya. Karena Allah menjodohkan manusia memang berdasarkan jenisnya. Pezina dengan pezina. Orang saleh dengan orang saleh. Enggak bakalan ada yang ketuker deh. Sejauh ini sih yang aku tahu begitu ya. Tapi memang sih, tidak ada hal yang begitu membahagiakan selain bisa beribadah bersama dengan pasangan hidup. Trust me! Sekian dulu sharing dari saya. Semoga bermanfaat dan menghibur ^^

Setelah ijab qabul (Saat itu, aku dan suami masih sama-sama belum cinta lho. Suka iya, tapi kalau ga jadi nikah juga kayaknya ga bakalan nangis meratap-ratap saat itu. Masih yang biasa aja)

resepsi. Nyesel deh ga pakai sigar.

norkeling pertama. Tujuh bulan pernikahan. Iya, suami lagi aku peluk dari belakang. Jadi kita lagi di boat mau ke lokasi snorkeling.

snorkeling pertama, tujuh bulan pernikahan

masih awal nikah banget, paling baru 3 bulanan. Lihat, belum pakai kawat gigi. Masih gingsul ^^
now ^^





Minggu, 18 Juni 2017

Bahaya Infeksi Saluran Kemih

Hallo, teman-teman semua. Saya mau sharing nih tentang pengalaman anyang-anyangan yang pernah saya alami.

Jadi, ketika tahun 2011, pertama kalinya saya mengalami hal ini. Infeksi saluran kemih yang rasanya ingin buang air kecil tapi ternyata hanya sedikit yang keluar dan malah bikin nyeri. Penyakit anyang-anyangan itu enggak bisa dianggap enteng, karena penyakit ini kambuhan. Entah sudah berapa kali saya mengalaminya dalam kurun waktu 7 tahun ini. Saya enggak akan menjabarkan ciri-ciri air pipisnya, soalnya tanpa dijelaskan juga, kalian pasti tahu deh rasanya ketika kalian anyang-anyangan. Ya kan?

Pernah enggak sih, 'hanya' karena anyang-anyangan, kamu jadi ngompol di celana? Pisah sama suami karena buru-buru pergi ke toilet dan lupa membawa hape kamu, jadinya kalian cari-carian kayak anak hilang? Atau membatalkan janjian buka puasa bersama teman padahal sebenarnya kamu sudah sampai di halte depan mal, dan malah memutuskan untuk langsung pulang karena 'hanya' anyang-anyangan? Wah, pokoknya banyak deh pengalaman tak terlupakan karena penyakit ini. Kayaknya si 'hanya' ini tidak bisa dianggap enteng ya. Jadi, apa sih anyang-anyangan itu, apa penyebab anyang-anyangan dan bagaimana cara mengatasinya?

ANYANG-ANYANGAN atau INFEKSI SALURAN KEMIH

Anyang-anyangan atau infeksi saluran kemih biasanya memiliki tanda-tanda sering merasa ingin buang air kecil, tapi urine yang keluar sangat sedikit disertai nyeri dan tidak lancar. 

Menurut dokter spesialis Urologi, Charles Matamba Hutasoit, anyang-anyangan adalah reaksi normal dari ketika ingin mengeluarkan sesuatu yang asing dari tubuh. Anyang-anyangan umumnya disebabkan oleh adanya infeksi bakteri saluran kencing. (sumber : http://lifestyle.kompas.com/read/ 2016/07/21/185100623/Sering.Anyang-anyangan.Bisa.Jadi.Ini.Penyebabnya) 

Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab anyang-anyangan. Beberapa mungkin ada yang sering kita lakukan tanpa sengaja.

1. Jenis kelamin. Wanita ternyata lebih beresiko untuk mengalami hal ini dikarenakan saluran kencing wanita lebih pendek dibanding pria, sehingga resiko terinfeksi bakteri E.Coli (dari anus) juga lebih besar.

2. Kemudian akan berhubungan juga dengan kebiasaan cebok yang salah. Biasakanlah untuk membersihkan anus dari depan ke belakang, sehingga bakteri E.Coli dari anus tidak akan masuk ke alat kelamin.

3. Infeksi bakteri Clamydia. Bakteri yang ada pada vagina ini merupakan salah satu penyebab mengapa seorang wanita mengalami keputihan. Dan kalau sampai bakteri ini masuk ke saluran kemih, maka dapat menimbulkan infeksi yang tidak diinginkan.

4. Kelainan pada saluran kemih. Kelainan ini mungkin membuat seseorang tidak bisa mengeluarkan urine dengan normal. Urin yang dikeluarkan malah mungkin akan kembali ke kandung kemih. Maka ada kemungkinan besar hal ini akan menyebabkan infeksi saluran kemih. Kalau masalah ini mungkin baru akan diketahui setelah berobat ke dokter kali ya.

5. Menopouse dan kurangnya hormon estrogen. Berdasarkan beberapa studi, wanita yang sudah mengalami menopouse ternyata kemungkinan lebih besar terkena anyang-anyangan. Menurunnya kadar estrogen dalam tubuh, sistem kekebalan kandung kemihnya juga menurun, sehingga lebih rawan terkena infeksi saluran kemih. Dalam hal ini aku jadi ingat sama ibu mertua. Bisa dibilang di rumah itu, aku sama ibu mertua memiliki kesamaan penyakit. Ibu mertua juga langganan sakit anyang-anyangan.

Oke, di sini aku potong dulu ya, aku mau cerita tentang penyakit anyang-anyangan yang pernah dialami oleh ibu mertua. Jadi, penyakit ini sudah diderita oleh ibu sejak masih muda. Awalnya mungkin seperti biasa, minum antibiotik saja sudah cukup. Sampai akhirnya bakterinya sudah kebal dan tidak mempan minum antibiotik yang biasanya. Ibu mertua pun harus bolak-balik ke dokter. Dan mungkin karena penyakitnya sudah lumayan parah, dokter harus melakukan perawatan ekstra. Namun sebelumnya dokter harus meneliti air pipisnya terlebih dahulu. Ibu mertua dilarang untuk kencing, tapiii disuruh minum yang banyak banget. Kebayang dong menderita dan nyerinya kayak gimana. Jadi setelah beberapa jam menahan pipis dan kandung kemihnya sudah sangat penuh, baru deh air pipisnya diambil, untuk kemudian diteliti jenis bakterinya.

Ya ampun, ngeri banget ya sampai serepot itu. Dulu ibu mertua mengira kalau sudah akan sembuh dan tidak kumat lagi. Ternyata setelah beberapa lama, karena perilaku yang salah (kebetulan ibu mertua suka lupa minum air), akhirnya kambuh lagi penyakitnya. Mau teriak enggak sih dengarnya?

Aku pas ngedenger ceritanya udah yang pucat gitu. Ya ampun, enggak mau deh sampai seperti itu, karena sampai dengan detik ini aja ibu mertua suka bilang kalau lagi anyang-anyangan. Tapi mungkin karena sudah terbiasa, beliau ceritanya dengan wajah datar tanpa ekspresi gitu. Antara mau percaya atau enggak kalau beneran lagi nahan nyeri. Karena pengalaman aku yang pernah ngalamin gimana repotnya dan nyerinya anyang-anyangan, itu udah sampai keringet dingin lho. Udah bingung mau ngapain aja salah melulu. Mau nangis nahannya. Aduh, jangan sampai deh T_T

6. Pengantin baru. Meningkatnya aktifitas seksual, ternyata tak jarang membuat bakteri yang ada di sekitaran liang kencing ikut terdorong masuk ke dalam saluran kencing. Tips yang bisa diberikan adalah dengan langsung buang air kecil setelah "melakukan". Kalau penjelasan ini sih off limit ya. Tapi pengalaman aku sih benar juga. Hehehe...

7. Diabetes. Penderita diabetes memiliki hasrat buang air kecil cukup tinggi namun urine yang dikeluarkan biasanya sedikit saja. Kondisi serupa bisa juga terjadi pada mengidap asam urat atau tekanan darah tinggi.

8. Pembesaran Prostat. Membesarnya prostat dapat menekan saluran kencing sehingga urine tertahan di dalam kandung kemih. Kondisi ini akan meningkatkan resiko tumbuhnya bakteri di dalam kandung kemih lantaran urine yang tidak tuntas dikeluarkan.

Untuk penyebab ini, biasanya terjadi pada pria dong ya. Karena kebetulan juga, ada teman pria yang sering terkena anyang-anyangan, dari kecil malah katanya. Namun sejauh ini dia belum tahu dengan pasti sih penyebab penyakit anyang-anyangannya. Yang pasti bukan prostat. Ah, entahlah. Tapi mungkin, anyang-anyangan yang dialami pria beda ya dengan yang dialami oleh wanita. Karena setahu saya juga, dia walaupun ngakunya anyang-anyangan, tidak pernah minum obat. Setahu saya juga dia hanya memiliki kelainan sering pipis sejak masih sekolah.

9. Batu ginjal. Kalau Anda sering anyang-anyangan, ada baiknya segera periksakan ke dokter karena bisa jadi merupakan pertanda adanya batu ginjal yang menghambat jalannya urine.

Mungkin salah satu efek sampingnya adalah pinggang yang sakit karena kekurangan cairan. Kalau sudah ada nyeri di daerah pinggang sebaiknya hati-hati, karena merupakan salah satu ciri sakit ginjal. Aduh, kalau sudah sakit ginjal berarti parah banget dong. Malah jauh lebih repot. Kalau sudah terlalu sering anyang-anyangan memang harus langsung berobat ke dokter untuk pengobatan lebih intensif.

10. Hamil tua. Kandungan yang membesar bisa menekan kandung kemih sehingga keinginan buang air kecil meningkat, namun air seni yang dikeluarkan sedikit saja. Kalau ini sih, aku enggak bisa banyak komentar. Tapi jadi agak sedikit takut sih. Soalnya belum hamil aja aku sering pipis. Kalau hamil bisa lebih sering lagi dong. Terus kalau ditahan bisa anyang-anyangan. Membayangkannya aja udah pasrah deh. Hahaha.... (Yang penting hamil dulu deh. Aamiinn...)

11. Jenis minuman tertentu. Beberapa jenis minuman yang dapat menyebabkan iritasi kandung kemih seperti soda yang mengandung jeruk, alkohol serta yang mengandung kafein. sehingga untuk mengatasinya anyang-anyangan, sebisa mungkin mengurasi atau menghindari minuman jenis ini.

Nah, kalau ini susah nih. Soalnya aku penggemar kopi. Mungkin itu juga yang menyebabkan anyang-anyangan aku masih suka kambuh. Mungkin sebaiknya aku mengimbanginya dengan banyak minum air putih. Dan semoga saja hal itu membantu.

12. Kurang minum air putih. Banyak minum air tak hanya bisa mengeluarkan racun dalam tubuh namun juga dapat mengeliminasi bakteri dari saluran kencing. Sebaliknya, dehidrasi membuat produksi urine semakin sedikit sehingga proses buang air kecil semakin sulit.

13. Menahan hasrat buang air kecil. Hal ini menyebabkan jumlah bakteri di dalam saluran kemih jadi berlipat ganda.

14. Kurang menjaga kebersihan. Seperti celana dalam yang basah dan lembab usai buang air kecil. Atau tidak mengganti celana dalam sehabis berolah raga.

15. Penggunaan produk pembersih. Kurangi pemakaian produk pembersih kewanitaan karena adanya bahan kimia atau pewangi dalam kandungannya, yang dapat menyebabkan iritasi. Ada baiknya memakai rebusan daun sirih alami apabila ingin membasuh organ kewanitaan. 

Wah, ternyata banyak banget ya penyebab anyang-anyangan. Dari 15 macam penyebab ini, kira-kira mana yang sering kalian alami? Kalau saya pribadi, anyang-anyangan saya gampang kambuh kalau saya kurang minum air putih dan menahan hasrat buang air kecil. Umumnya sih menahan hasrat buang air kecil. Karena pernah kan ya ketika kita sedang asyik melakukan sesuatu, misal nonton film yang lagi seru-serunya atau membaca novel pas banget bagian klimaks, kita jadi tidak mau kehilangan momen. Oleh sebab itu, dibela-belain deh, sampai nahan buang air kecil. Kebiasaan buruk memang.

Kemudian kurang minum air putih. Aduh, kalau sudah sekali terkena anyang-anyangan, banyak minum air salah, kurang minum juga salah. Banyak minum air bawaannya mau pipis mulu. Jadi capek kan, akhirnya jadi malas. Tapi, kurang minum air juga salah, karena saluran kemihnya sudah sensitif. Yang ada malah terkena anyang-anyangan jadi semakin besar resikonya. Makanya, ketika saya berniat puasa, apalagi sudah memasuki bulan ramadan, bukan kehausan atau kelaparan yang saya khawatirkan, melainkan anyang-anyangan kambuh.

Terus, apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi anyang-anyangan? Iya, dong, karena ketika penyakit ini kumat, aktivitas pun jadi terganggu. Mau melakukan apa juga jadi terhambat karena kekhawatiran bisa pipis di celana karena tidak bisa menahan pipis lagi, atau badan sampai demam dan panas dingin karena menahan nyerinya.

MENGATASI ANYANG-ANYANGAN


Selama ini, tentu saja saya mengatasinya dengan minum antibiotik. Tapi kebayang ga sih kalau harus terus-menerus minum antibiotik? Belum lagi kalau minum antibiotik itu harus disiplin sampai habis 5 hari. Iya, lima hari. Walaupun nyerinya sudah hilang, tapi tetap saja obatnya harus diminum sampai habis. Karena yang namanya bakteri itu harus diobati sampai tuntas. Kalau tidak tuntas ada kemungkinan kambuh lagi (sehabis minum obatnya aja masih suka kambuh ya) dan yang lebih repotnya, bakterinya sudah kebal terhadap anti biotik tersebut. Jadi harus ganti obat, dan tentu saja biasanya dengan kandungan yang lebih tinggi lagi. Wah, jangan deh. Minum antibiotik memang sangat efektif dalam mengobati penyakit. Sangat cepat. Pengalaman saya kalau anyang-anyangan lagi kambuh, saat itu minum, hanya selang beberapa menit sakit anyang-anyangannya sudah hilang. 

Nah, biasanya kan kita suka malas ya ngabisin obat, padahal hal itu sangat dilarang, apalagi antibiotik. Minum antibiotik juga harus tepat jamnya. Selain masalah resistensi ini, minum antibiotik juga banyak efek sampingnya. Dan ternyata efek sampingnya lebih mengerikan lho. Seperti gangguan pencernaan, menimbulkan alergi, infeksi organ intim (dalam hal ini keputihan untuk wanita), atau mungkin yang lebih parah menimbulkan penyakit lainnya. Na'udzubillahimindzalik. Amit-amit, jangan sampai ya. 

Atau mungkin kita bisa mengatasi anyang-anyangan dengan cara herbal, seperti ramuan tradisional, minum air jeruk nipis sampai dengan mendengarkan gemericik air dan mandi dengan air mengalir (mungkin maksudnya mandi dengan shower ya).

Tentu saja kalau dengan cara herbal tidak akan bisa langsung sembuh. Pengobatannya lamaaa, mungkin efeknya baru bisa dirasakan berbulan-bulan kemudian. Lagipula, kalau herbal (misalnya jamu-jamuan), kalau kurang minum air putih juga tetap saja bisa menimbulkan efek samping lainnya, misalnya ginjal. Aduh, bingung ya. Okelah kita sedang rajin dan membuat ramuan tradisional sendiri dari buah-buah. Tapi kalau misalnya ada yang praktis, kenapa enggak ya?

Sampai di sini, hal mendasar yang jangan sampai kita lupakan adalah banyak minum air putih. 


Tapi, bagaimana dong kalau sudah terlanjur mengalami, atau tidak mau sampai mengalami anyang-anyangan ini? 

Alhamdulillah, sekarang ada alternatif obat lainnya lho, plus praktis banget juga. Yah, bukan obat sih sebenarnya, lebih tepatnya ke herbal minuman kesehatan ya. Tanpa sadar, kalian pasti pernah dengar deh produk ini. Lagipula namanya juga identik kok dengan penyakit ini. Yep, benar banget. URICRAN. Gampang kan ingatnya?

Nah, ini dia nih penampakan dari Uricran. Praktis banget ya! Uricran juga ada bentuk kapsulnya lho!

Komposisi utama produk Uricran adalah extract cranberry. Kenapa Cranberry? Karena ternyata kandungan Cranberry itu banyak sekali manfaatnya, seperti kandungan vitamin C yang tinggi, kaya serat makanan, mineral dan anti oktidan yang disebut proantocyanidin. Sehingga cranberry sangat efektif untuk mengobati dan mencegah penyakit saluran kemih, mencegah bakteri menempel pada saluran kemih. Lebih lengkapnya klik di sini ya

Lalu bagaimana dengan rasanya? Enak banget! Kayak minuman sirup buah gitu, enggak eneg sama sekali. Lebih enak diminum dingin. Kalau bukan obat mungkin saya bisa kebablasan minumnya. Iya, tentu saja ada dosis yang disarankan untuk meminumnya, yaitu 1-2 sachet/hari. Untuk pengobatan tentu saja 2 sachet perhari ya, di minum setiap hari.

sumber : http://uricran.co.id/

Saya suka banget sama rasa produk uricran ini. Untuk pencegahan juga sangat disarankan meminumnya lho. Jadi untuk wanita, bukannya nakut-nakutin nih (karena memang pada kenyataannya sakit anyang-anyangan itu ganggu banget), mulai perhatikan ya masalah kebersihan organ intim kalian, jangan lupa banyak minum air putih, dan jangan pernah menahan pipis. Tiga point penting itu sih menurut aku yang paling harus diperhatikan. Terlepas dari adanya penyakit bawaan ya, seperti diabetes, darah tinggi, asam urat atau penyakit kelamin lainnya, dan tentu saja kondisi spesial seperti ketika sedang hamil besar.


Oke deh, teman-teman, kayaknya itu aja sharing dari saya ya mengenai infeksi saluran kemih yang pernah saya alami. Alhamdulillah, sekarang sudah tidak kambuh lagi. Lebih baik merawat kan dari pada mengobati. Dan lebih baik mencegah daripada mengobati juga ;)

Stay healthy ya, guys *muahmuah* 


-->

Selasa, 11 April 2017

Muslim Fashion Festival (MUFFEST) Indonesia 2017

781
Seneng deh, akhirnya keinginan tahun kemarin yang enggak bisa datang ke acara MUFFEST, bisa terwujud tahun ini. Jadi tamu undangan pulak, walaupun sebagai blogger, karena sebenarnya berharap jadi desainer. (Sekolah dulu sana!) ;p Berikut laporannya ya, kakak-kakak dan adik-adik ;)



Muslim Fashion Festival Indonesia 2017 berlangsung selama 4 hari, 6 April - 9 April 2017, berlokasi di Jakarta Convention Centre (JCC), yang diikuti oleh 200 desainer, 150 brand dan dengan jumlah pengunjung diperkirakan 50.000. Wow, seru ya baca seluruh data tersebut. Bisa kebayang enggak sih seperti apa keseruan acara ini? Sudah bisa dipastikan ada puluhan fashion show yang digelar di acara ini. Mulai dari para desainer senior sampai desainer muda dengan karakter rancangan yang beragam : gaya konvensional, kontemporer dan Syar'i, di antaranya Irna Mutiara, Hannie Hananto, Monika Jufry, Najua Yanti, Nuniek Mawardi, Sofie, Barli Asmara, Rani Hatta, Astri Lestari, Khanaan Shamlan, Rosie Rahmadi, Oki Setiana Dewi, dan Annisa Hasibuan. Serta sejumlah desainer yang tergabung dalam asosiasi Indonesian Fashion Chamber (IFC), Hijabersmom Community, Ikatan Perancang Busana Muslim Indonesia, Indonesia Modest Fashion Designer, dan Islamic Fashion Institute. Ada pastisipasi dari desainer luar negerinya lho, yaitu Uni Emirat Arab dan Turki.






Sektor industri pakaian muslimah atau yang disebut dengan modest wear, tengah menjadi perhatian global. Tak terkecuali di Indonesia, fashion muslim mengalami perkembangan yang sangat pesat, seiring dengan misi pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pusat fashion muslim dunia tahun 2020. Salah satu upaya mewujudkan cita-cita tersebut, Indonesian Fashion Chamber (IFC) bersama Dyandra Promosindo sebagai event organizer, menyelenggarakan Muslim Fashion Festival (MUFFEST) Indonesia, di mana event ini bertujuan untuk mempertemukan para pelaku industri fashion muslim di Indonesia dan Internasional. Event ini juga didukung oleh Kementrian Koordinator bidang Perekonomian Republik Indonesia, Kementrian Perindustrian Republik Indonesia, Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, dan Kementrian Perdagangan Republik Indonesia.

sambutan pembukaan

acara MUFFEST 2017 resmi dimulai


"Muslim Fashion Festival Indonesia 2017 kembali mengarahkan pada meningkatkan kompetensi produk fashion muslim Indonesia agar dapat bersaing di pasar global. Sekaligus memasarkan keunggulan busana muslim Indonesia yang diarahkan pada ready to wear craft fashion dengan mengoptimalkan kekayaan budaya lokal yang mengacu pada Indonesia Trend Forecasting." Ungkap Deden Siswanto, Project Director MUFFEST 2017.

MUFFEST 2017 ini merupakan tahun kedua event ini, akan ditampilkan fashion show dengan mengusung konsep "Digitarian: Smart, Young & Ethical Generation." Selain fashion show, ada beragam acara lainnya seperti Talk Show, make over dan games. Selain fashion show, tentu saja ada banyaaaak sekali stan-stan yang menjual pakaian-pakaian muslimah yang bagus dan keren-keren. Yah, kalau kita mau ngubek-ngubek, pasti dapet kok barang bagus dengan harga yang murah, karena di acara ini tidak sedikit para peserta pameran yang mendiskon barang mereka. Pasti mupeng, deh! Aku aja mupeng dan pengen borong semuanya.

detailnya cantik banget ya




di sini banyak diskonnya lho








kita bisa narsis dulu di sini sebelum masuk ke ruang pameran ^^

Intinya, datang ke acara ini walaupun cuma sekali, bikin mupeng deh! Mungkin sebaiknya aku nahan diri untuk enggak belanja setahun ini sampai tiba saatnya MUFFEST 2018 biar bisa borong banyak ya! Hihihihi... tapi kayaknya enggak bisa kalau nahan setahun enggak belanja -___-' Dari segi harga pakaian di acara ini, sebenarnya banyak kok yang tidak terlalu mahal. Rata-rata memang sekitaran 200-300 untuk pakaian kasual. Tapi kualitasnya memang oke punya, bahannya halus dan bagus. Kalau gamis itu sekitaran 400-500. Harga standar, di Tham*** Ci** aja harganya juga sudah segitu kok untuk gamis-gamis. Dan untuk beberapa desainer, harganya bisa sampai jutaan sih. Lumayan lah walaupun enggak kebeli yang jutaan, bisa pegang-pegang. Hehehe....

Aku excited banget bisa datang ke acara ini. Walaupun aslinya cuek, tapi karena punya suami fashion police, sedikit banyak aku harus tahu dan paham masalah fashion. Makanya bisa datang ke sini seneng banget. Maunya sih sama suami, biar bisa minta dibeliin yang aku mau. Tapi apalah daya... suaminya sibuk. Lalu, karena aku merupakan tamu undangan sebagai blogger, dapat ID Card dong, jadinya aku bisa bebas keluar masuk ruangan media center. Aku bisa makan dan minum sepuasnya di sana. Tapi ogah lah bolak-balik ke sana, kurang kerjaan. Padahal banyak banget yang harus dilihat-lihat di acara ini. Hehehe...

dibikinin kopi sama mamasnya, baik ya dihias begini.
seumur-umur baru kali ini aku minum kopi yang ada gambar daunnya ^-^

Jadi, sampai jumpa di MUFFEST tahun depan ya ;) Can't wait!


Minggu, 09 April 2017

Respek Pada Pasangan Sendiri

781

Tema kali ini adalah respek. Respek bisa diartikan sebagai rasa hormat, lebih dari itu biasanya respek disertai dengan kekaguman. Respek terhadap diri sendiri adalah menghormati dan mengagumi kemampuan diri sendiri. Sedangkan respek terhadap orang lain adalah menghormati dan mengagumi kepribadian orang lain.

Sering kali kita menganggap enteng orang lain serta merasa tidak puas dan mengeluh dengan kekurangan yang ada pada mereka. Padahal pribadi masing-masing orang berbeda-beda. Kita tidak bisa menyamaratakan semua orang. Misal, tidak semua orang memiliki IQ di atas 100. Ada yang kita beritahukan sekali dia langsung paham. Tapi ada juga yang sampai harus berkali-kali, dia belum sadar juga. Bukan berarti juga harus dibiarkan dia dalam ketidak pahamannya. Hanya saja, effort yang dibutuhkan untuk membuat orang tersebut memahami menjadi tiga kali lipat lebih besar.

Bicara masalah respek, enggak usahlah kita bicara jauh-jauh tentang respek pada orang lain. Respek pada pasangan sendiri, contoh paling dekatnya. Menurutku, pernikahan merupakan salah satu keajaiban dunia yang sudah terjadi sejak jaman primitif. Apalagi kalau pernikahan itu bisa berlangsung sampai masing-masing pasangan meninggal dunia.

Kita semua pasti tahu, pernikahan selain melibatkan kedua pasangan pria dan wanita, juga melibatkan keluarga masing-masing. Padahal seperti juga kita ketahui, hal paling kompleks di dunia ini adalah manusia. Dan saya yakin, tidak ada dua keluarga yang sama persis plek di dunia ini. Mungkin memiliki persamaan, tapi perbedaannya pasti banyaaak sekali. Jadi, jangan kaget kalau suatu saat terjadi pertikaian. Pasangan suami istri dan kakak adik aja bisa berantem apalagi hanya besan, yang notabene adalah orang lain.

Kali ini, saya enggak akan ngambil contoh jauh-jauh deh. Saya dan suami misalnya. Bisa diibaratkan dua mata koin yang saling bertolak belakang. Saya tidak pernah ada masalah dengan sekolah. Suami tukang bikin masalah di sekolahnya, sampai ada kejadian DO dan harus pindah sekolah ke Tasik, walaupun hanya setahun. Di DO nya juga bukan alasan yang ringan, karena jadi provokator satu sekolah buat nyerang sekolah lain. Kalau saya? Boro-boro jadi provokator. Peace aja lah! Sekolah yang rajin, lulus dengan nilai yang bagus. Jadi anak manis deh!

Kemudian masalah hobi. Saya sukaaa sekali membaca. Suami? Mungkin seumur hidup buku yang pernah dibacanya bisa dihitung dengan kelima jari aja (di luar buku pelajaran ya). Makanya enggak heran kalau semua novel yang sudah aku tulis dia belum pernah baca satu pun. Hahahaha.... #nasib

Aku kalau marah, pasti diam dulu, enggak langsung meledak. Pokoknya sebisa mungkin menghindar dulu deh. Sebagian besar keluarga aku juga seperti itu. Tapi suami, kalau sudah marah langsung meledak. Orang bisa abis dicecar sama dia sampai langsung merasa enggak berdaya. Dan sebagian besar keluarganya seperti itu. Kayaknya aku sedikit banyak mulai ketularan sih. #sigh

Suami anak gaul abis. Sebagian besar teman-temannya adalah anak gaul dan anak orang kaya. Sedangkan aku, sebagian besar teman-temanku adalah kutu buku dan anak Rohis atau sangat religius. Makanya enggak heran, kalau tadi suami cerita tentang orang Indonesia yang banyak datang ke Bangkok untuk nonton Coldplay, aku malah enggak peduli sama konser itu. Dia bilang hampir semua postingan teman-temannya di IG sedang nonton Coldplay. Sedangkan layar IG aku sebagian besar tentang buku dan promosi online shop. Wahahahaha.... Tapi sebel juga sih, soalnya dia selalu dikelilingi sama cewek-cewek cantik bin bahenol yang hedonis. Yaaah, kalau itu sih, pasrah aja lah. Aku percaya sama suami. Buktinya, sampai kami menikah kami berdua masih sama-sama perawan. Aku sih, enggak aneh ya kalau masih perawan, kalau suami kan patut diacungin jempol mengingat pergaulannya. Makanya, kami sering berkelakar, kalau aku adalah hadiah buat dia karena tetap menjaga keperjakaan sampai nikah. Sedangkan aku hukuman buat dia karena ... yaaah... walaupun begini, karakter aku agak keras dan pernah lah ada masalah. Hehehe...

Masalah penampilan. Bisa dibilang suami itu fashion police. Sama siapa saja, termasuk sama aku. Tapi itu biasanya berlaku kalau mau pergi sama dia aja. Kalau aku pergi sendiri, bebas mau pakai baju apa aja. Makanya kalau ketemu aku di hari-hari, jangan heran kalau kadang aku pakai baju enggak nyambung. Soalnya pakai se-NYAMAN-nya. Kalau suami mah, bisa ngaca lima kali, baru OK. Kalau dandan mau kondangan, aku yang selesai duluan. Wew....

Selain masalah perbedaan itu, yang lebih nyebelinnya itu kalau dia udah ngumpul sama teman-temannya buat main PS. Ya ampuuun... bisa sampai jam 1 atau jam 2 dini hari. Benar-benar bikin spanneng deh. Kadang sih, aku cuek aja, ya sudah aku asyik sendiri aja di kamar nonton TV, baca, nulis atau main game. Iya, untungnya sih dia main PSnya di teras rumah. Seneng banget manggil teman-temannya ke rumah. Kalau aku larang, dia protes, "Aku bandelnya ngapain sih Chayank? Cuma main PS. Coba kalau cowok lainnya!" Aku timpalin aja, "Ya, jangan samain lah teman kamu sama teman aku. Teman-teman cowok aku mah enggak ada yang tukang jajan kayak gitu." Tapi ya udah, berantemnya juga ga lama, soalnya kebetulan aku yang tipenya enggak bisa berantem. Pernah sih meledak, tapi baiknya juga cepat. Untungnya juga suami kalau dia salah, ngaku salah, dan mau cepat minta maaf. Kalau habis marahin aku  juga, abis itu akunya langsung dipeluk-peluk. Sebenarnya sih kalau lagi gitu, pengen banget jitakin dia. Enak aja udah ngomel-ngomel abis itu main peluk aja. Dimaafin gitu? Belum tentu lah. Tapi itu juga enggak lama sih, abis itu akunya juga udah enggak marah lagi. Heran? Iya... ini pasti berkah ALLAH, kami berdua dikasih perasaan begini.

Nah, masalah nyetir mobil deh! Suami itu enggak bisa nyetir mobil. Yep, jadi kalau kemana-mana aku yang nyetir. Makanya suami suka bercanda, kalau dia menikah itu dapat paket plus, dapat istri, upik abu dan supir. Nyebelin yak. Ya udah biarin, aku nikah dapat ATM. Tapi lucunya juga, suami bisa nyetir motor, aku enggak bisa nyetir motor. Dari dulu aku memang dilarang sama ortu buat belajar bawa motor, tapi disuruh belajar nyetir mobil. Ya, simbiosis mutualisme lah kalau begini. Soalnya hari gini kemana-mana bawa mobil, capek gila. Akhir pekan mall-mall penuuuh. Parkiran susaaah. Makanya kami kalau jalan-jalan naik motor aja, ke mall yang dekat rumah aja.

Suami itu bisa dibilang amat sangat nyebelin. Hampir tiap shubuh aku kesel banget sama dia soalnya dibanguninnya susah banget. Setiap shubuh berharap banget suaminya bukan dia. Tapi selang satu dua jam langsung istighfar, soalnya keselnya udah hilang dan bergantikan rasa sayang. Lucu memang masalah hati itu. Hanya ALLAH yang Maha Membolak-balikan hati manusia. Melihat banyaknya kasus perceraian saat ini, di mana yang tadinya bilangnya cinta mati, abis itu langsung saling menghujat. Aku hanya bisa berdoa, agar Allah selalu menjaga hati kami berdua, tetap berada di jalanNya, berkasih sayang di bawah ridhoNya.

OK, balik ke topik awal. Respek terhadap pasangan sendiri. Jadi kesimpulannya, jangan kita mengharapkan pasangan untuk menjadi sempurna. Kenapa enggak kita aja yang berusaha untuk memahaminya dan bersama-sama menyempurnakan satu sama lain. Berubah untuk menjadi lebih baik itu memang sangat perlu. Saling nasihat menasehati dalam kebaikan, bukan berarti memojokan mereka. Karena ketika pasangan melakukan kesalahan, kita pun harus menegur, namun dengan cara yang lembut. Pertikaian pasti terjadi, karena pada dasarnya kita adalah dua pribadi yang saling berbeda. Namun, respeklah satu sama lain. Komunikasi harus berjalan dengan baik. Buatlah pasangan nyaman dengan kita. Karena kalau mereka nyaman, untuk apa mereka mencari kenyamanan di luar? Pada dasarnya, hati manusia itu pasti condong pada kebaikan kok. Ketika melakukan kesalahan atau yang melenceng, pasti hatinya tidak tenang. Jadi, kalau ada pertanyaan, bagaimana mengetahui kita melakukan kesalahan atau tidak. Berkaca pada kondisi hati.

Udah ah, kok jadi melenceng lagi sih. Ok deh! Sekian dulu ya sharing dari saya. Semoga ceritanya menghibur ^^

Always date your wife, and always flirt with your husband ;)



Selasa, 04 April 2017

Side Story of Calibri Serena part 2

781

Hai, sebelumnya saya mau minta maaf kalau kelanjutan kisah Calibri lama banget di uploadnya. Sebelumnya kalau ingin membaca part satu, silahkan klik di sini ya. Atau membaca review novel Frankfurt bisa berkunjung ke siniblog rizky mirgawati, Peek The Book, Ach's Book Forum, dan Luckty si Pustakawin
Baiklah, tanpa menunda-nunda, selamat membaca ^^!
*********

Sumber : https://wakidyuniarto.files.wordpress.com/2015/10/img_2021.jpg


Suasana di kantin ramai seperti biasanya. Dan biasanya juga Calibri tidak suka membeli makanan di kantin. Namun kali ini dia terlalu lapar untuk bisa menahan sampai dengan pulang nanti. Dia memilih kantin paling pojok dan paling sepi, walaupun tentu saja itu tidak mungkin. Dari ujung pintu masuk sampai dengan ujung yang satunya lagi, semua stan makanan penuh dengan murid-murid yang saling berebutan memesan makanan ataupun minuman. Walaupun sudah diajarkan budaya antri di dalam kelas, tetap saja kalau sudah masalah perut tidak bisa kompromi.

“Bu, pesan lontong sayurnya satu.” Ucap Calibri dengan suara pelan dan agak takut-takut, mirip seorang mata-mata yang berbisik-bisik ketika sedang menyampaikan informasi rahasia pada rekan kerjanya. Hanya bedanya kali ini, informasi itu tidak menggugah perhatian anak manapun untuk mencuri dengar.

“Apa, Neng, ibu tidak dengar. Di sini ramai sekali. Bisa lebih keras sedikit?” teriak ibu penjaga kantin yang bertubuh montok dengan pipi tembam menggemaskan mirip bakpao karena kulitnya yang putih.

“Lontong sayur satu, Bu!” teriak Calibri akhirnya setelah mengumpulkan segenap keberanian. Namun rupanya terlalu keras, karena hampir separuh dari seluruh isi kantin bisa mendengar teriakannya.

Tingkahnya itu tentu saja langsung ditertawakan oleh semua orang. Membuat Calibri menjadi sangat malu dan kepalanya tertunduk dalam.

“Ini lontongnya, Neng! Nggak usah dipikirkan keusilan anak-anak yang lain.” Senyum ibu itu.

Calibri terpana melihat senyuman si ibu. Mengingatkannya pada senyum milik almarhumah ibunya sendiri. Mendadak dia merasa sangat merindukan ibu, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun ini.

Calibri membawa nampan pesanannya setelah membayarkan sejumlah uang pada ibu kantin. Dia tidak peduli akan duduk di mana. Pokoknya asal ada kursi kosong, dia akan duduk di sana. Dan beruntung, hanya beberapa langkah, dia sudah melihat kursi yang kosong.

Tanpa pikir panjang, dia langsung duduk di sana dan melahap sampai habis lontong sayurnya.

“Wow-wow-wow..., pelan-pelan makannya kalau tidak mau tersedak dan memuntahkan semua makananmu kembali.”

Calibri mendongak begitu mendengar ada sebuah suara yang rasanya ditujukan untuknya. Benar saja, ada wajah anak laki-laki yang sedang duduk di depannya, tersenyum geli melihat kelakuannya.

“Nih, minum dulu!” tawar anak laki-laki itu memberikan Calibri sebotol tes manis dingin.

Calibri menerima tawaran itu dan meminumnya, “Te-terima kasih...,” ucapnya dan kembali menyuap lontong sayurnya, tapi kali ini dengan lebih pelan.

Calibri menunggu, apa yang akan dikatakan lagi oleh anak laki-laki di depannya ini. Tapi tidak ada. Sampai selesai makan, anak laki-laki ini hanya diam dan asyik memperhatikannya.

“Apakah... ada yang salah dengan wajahku?” tanyanya ragu-ragu mengusap wajahnya sendiri dengan tisu.

Anak laki-laki itu kembali tertawa, “Wajahmu manis juga.”

Seumur hidup, Calibri jarang sekali bergaul dengan teman-temannya. Apalagi dengan seorang anak laki-laki yang baru pertama kali bertemu dan langsung memberinya pujian. Otomatis pujian itu membuat wajahnya langsung memerah.

Baru dia ingin mengucapkan terima kasih, salah seorang teman anak laki-laki itu memanggil dan mengajaknya bermain sepak bola di lapangan.

“Andika, woooy..., ngapain di situ? Buruan udah mau mulai nih! Nanti keburu bel!”

“Okeee!” dan tanpa permisi, anak laki-laki itu pergi meninggalkan Calibri.

Tinggalah dia sendiri sekarang - walaupun tidak benar-benar sendiri - dengan jantung yang berdebar keras. Jadi, namanya Andika....
***

Anak laki-laki itu bernama Andika Irawan. Dia merupakan anggota tim basket di sekolah, tubuhnya sangat jangkung untuk ukuran anak SMP, 175 cm. Andika populer di sekolah, tidak heran kalau hampir seluruh penghuni di sekolah ini mengenalnya.

Calibri merasa tidak sanggup untuk bersaing dengan anak perempuan lainnya, yang rata-rata jauh lebih cantik dan menarik daripada dirinya. Lagipula, dia yakin sekali kalau Andika pasti tidak menyukai dirinya. Bahkan mungkin saja anak cowok itu sudah melupakan kejadian di kantin saat itu. Mungkin baginya itu hanya kejadian sambil lalu saja.

Calibri merasa sedih, saat seperti ini, seharusnya dia bisa berbagi cerita dengan orang yang lebih tua dan bisa dipercaya olehnya. Tapi Ibu tidak ada. Ayah sibuk bekerja demi biaya sekolah dirinya. Lagipula laki-laki tidak pernah bisa diajak berbincang-bincang untuk masalah seperti ini bukan? Yang ada bukannya memberikan solusi, ayah pasti akan melarangnya macam-macam bahkan mulai mengambil langkah ekstrem dengan menyewa supir untuk mengantar jemputnya. Yah, walaupun Calibri tidak keberatan juga dengan hal itu mengingat dia harus menempuh perjalanan lumayan jauh sampai dua kali ganti angkot dan seringkali bertemu dengan orang-orang asing yang aneh dan menyeramkan. Jadi dihukum dengan diantar jemput mungkin tidak akan terlalu mengganggunya.

“Sepertinya anak baru itu akan masuk ke dalam kelas ini.” Ucap Vira, anak perempuan yang duduk di depannya.

“Aku udah lihat, anaknya cantik sekali! Kulitnya putih bersih, tubuhnya tinggi, rambutnya lurus.” Sambung Tommy yang langsung disoraki oleh anak lainnya di dalam kelas.

Belum juga reda obrolan mereka tentang anak baru itu, Pak Imam, guru Fisika, masuk ke dalam kelas dan anak-anak pun segera tenang. Ketua kelas memimpin mengucapkan salam.

“Jadi..., karena kalian sudah mengetahuinya, bapak akan segera menyuruhnya untuk masuk saja.” Senyum Pak Imam bahkan tanpa kata pengantar sedikit pun.

“Setujuuuu...!” teriak anak-anak dengan rusuh.

Maka masuklah seorang dara manis dengan ciri-ciri yang sudah dijabarkan oleh Tommy tadi. Namun pada kenyataannya, anak perempuan ini memang benar-benar cantik dan ayu. Entah mengapa, sepertinya siapa pun tidak akan pernah bosan memandangi wajahnya.

“Panggil saja Indah.” Begitu perkenalan anak perempuan itu yang hanya bisa ditangkap oleh telinga Calibri yang separuh jiwanya entah sedang terbang kemana.

Akhir-akhir ini dia memang mendapati sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya. Dia memang tahu kalau dia sering membayangkan sesuatu, namun akhir-akhir ini agak terlalu mengganggunya. Hampir setiap wajah yang dilihat olehnya, entah mengapa tiba-tiba dia membayangkan sebuah kejadian tentang orang itu. Kadang memang hanya biasa saja, namun terkadang mendekati hal-hal yang berbahaya.

“Baiklah, Indah, karena di kelas ini hanya ada satu tempat duduk yang masih kosong, kau bisa duduk di sebelah Calibri. Calibri angkat tanganmu.” Ucap Pak Imam tersenyum pada Indah, “Tenang saja, Calibri murid yang sangat pintar. Kalau ada pelajaran yang tidak kau mengerti, tanyakan saja padanya.”

Indah tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia berjalan menuju kursinya yang terletak di baris paling depan pojok kanan kelas. Indah langsung duduk di samping Calibri dan mengulurkan tangannya. Sementara itu Pak Imam memulai pelajarannya.

“Senang berkenalan denganmu, Calibri.” Senyum Indah.

Calibri terpana menerima uluran tangan itu, dan dengan pelan dia membalasnya.

“Terima kasih. Senang berkenalan denganmu juga.”
***

Memang sesuai dengan nama dan wajahnya, Indah benar-benar cantik dan baik hati. Dia tidak sombong dan tidak merasa aneh ketika melihat sikap Calibri yang lebih senang menyendiri. Justru sebaliknya, Indah seringkali mengajaknya jalan bareng. Entah apakah itu untuk pergi ke kantin, ke ruang guru, ke perpustakaan, ataupun sekedar iseng jalan-jalan di koridor kelas. Dengan kata lain, baru kali ini Calibri merasakan yang namanya memiliki seorang teman ketika sedang melakukan satu aktivitas, dan rasanya menyenangkan juga.

Saat ini Calibri dan Indah baru saja selesai meminjam buku di perpustakaan dan akan kembali ke dalam kelas. Mereka berbincang-bincang seperti biasa, seperti sepasang sahabat karib yang sudah saling kenal sejak lama. Tapi memang rasanya seperti itu, walaupun baru berlangsung lebih dari satu bulan umur pertemanan mereka, Calibri merasa kalau dia sudah sangat mengenal Indah dengan baik.

Dan mengetahui kehidupan Indah yang ternyata tidak mudah, sebagai seorang anak yatim-piatu yang dibiayai sekolah oleh bos tempatnya bekerja seusai sekolah setiap harinya, membuat Calibri merasa sangat beruntung karena dia masih memiliki ayah yang bisa memberinya kasih sayang yang tulus dan juga memenuhi segala kebutuhan hidupnya, mulai dari rumah yang nyaman, kamar yang nyaman, fasilitas yang lengkap, makan yang cukup, dan sekolah yang bagus.

“Hari ini buat tugas kelompok biologi di rumah aku aja.” Ajak Calibri. Setelah sekian lama berteman, baru kali ini dia berani mengajak Indah main ke rumahnya. Padahal Indah sejak awal pertemanan mereka tidak pernah segan-segan mengajaknya untuk mampir ke panti asuhan tempatnya hidup selama ini.

“Boleh. Tapi aku nelepon bos aku dulu ya kalau aku baru bisa menjaga kios setelah maghrib.” Senyum Indah.

“Oh iya, kamu harus bekerja ya. Ya sudah, kita belajar di tempat kerja kamu aja, biar tidak ada masalah dengan bosmu.” Jawab Calibri. Dia tidak berani mengambil resiko Indah terkena masalah dengan bosnya.

Dari cerita Indah, bosnya mungkin tidak masalah. Tapi kedua anaknya lah yang terkadang menjadi masalah. Jadi Calibri pikir, daripada dia memberikan kesempatan kepada kedua anak itu untuk semakin menyusahkan Indah, lebih baik dia yang mengalah, walaupun dia harus pulang sore sekalipun.
***

“Calibri, kita mampir ke sini dulu ya.” Ajak Indah ketika mereka berdua sedang berjalan di pertokoan menuju kios tempat Indah biasa jaga sehabis pulang sekolah.

“Restoran cepat saji? Kau belum makan?” tanya Calibri mengikuti Indah masuk ke dalamnya.

“Ya, aku sengaja tidak jajan di kantin sekolah agar bisa mengumpulkan uang dan makan di sini. Aku hanya penasaran dengan rasanya saja.” Senyum Indah merasa aneh namun geli dengan ucapannya sendiri.

“Oh, baru kali ini kau makan burger di sini?” tanya Calibri merasa tidak percaya dengan pendengarannya.

“Ya,” senyum Indah, “Apakah kau mau? Kelihatannya uangku cukup untuk kita berdua.” Tawarnya.

“Ah, jangan, aku punya uang jajan yang cukup dari ayahku. Malah selalu berlebih. Ini uangku. Pesankan saja yang kamu mau.” Ucap Calibri memberikan selembar lima puluh ribuan pada Indah sementara dia langsung duduk di salah satu pojokan dan mengeluarkan telepon genggamnya. Saat itu telepon genggam masih merupakan barang ekslusif.

Indah tersenyum menerima uang Calibri dan langsung berjalan menuju konter makanan.

Calibri mendapatkan pesan dari ayah, ayah akan pulang hari ini dari Jerman. Beliau memang bekerja di sana dan hanya pulang paling cepat tiga bulan sekali. Calibri bisa saja ikut, namun dia tipe yang tidak cepat beradaptasi, sehingga dia memutuskan untuk sendirian saja tinggal di rumah mereka.

Sambil membalas pesan dari ayah, Calibri iseng melihat sosok Indah yang saat ini sedang memesan makanan dan dilayani oleh seorang laki-laki yang memakai seragam restoran ini.

Tiba-tiba Calibri melihat sesuatu yang aneh, tapi dia tidak paham dengan apa yang dilihatnya itu. Dia seperti melihat sulur-sulur berwarna keperakan mengalir antara dirinya, laki-laki itu, dan Indah. Ah, mungkin dia hanya menghayal lagi. Lagipula, sepertinya wajah pemuda itu sudah tidak asing bagi dirinya. Namun, sebelum bayangan itu muncul, Calibri langsung mengalihkan pandangannya. 

Dia semakin tidak memahami dirinya. Kalau tidak salah, dulu dia memang pernah seperti ini, ketika kecil, sebelum Mama meninggal. Namun, setelah Mama memberinya banyak terapi, dia tidak pernah mengalaminya lagi. Entah dia harus bereaksi bagaimana, namun dia merasa sedikit takut dengan bayang-bayang yang semakin sering menyerang kepalanya sepeninggal Mama. Untung saja frekuensinya masih sangat jarang.
***

Beberapa hari ini Vanda, Stefany dan Deasy ramah sekali pada Indah. Yah, memang tidak hanya mereka bertiga yang ramah pada Indah. Hampir seluruh isi sekolah ini sangat baik pada Indah yang begitu sopan, ramah dan menyenangkan. Seharusnya Calibri tidak merasa aneh, tapi ada sedikit perasaan aneh dan tidak nyaman di dalam hatinya, semacam perasaan tidak rela kalau Indah ternyata dekat dengan orang lain dan bukan dirinya saja.

Berkali-kali Calibri mengutuk dirinya sendiri. Seharusnya dia tidak berpikiran picik seperti ini. Indah memiliki hak untuk mempunyai banyak teman. Jadi terserah Indah untuk berteman dengan siapa. Tapi tetap saja, Calibri merasa tidak rela.

“Indah, kita makan di kantin yuk.” Ajak Calibri untuk pertama kalinya dia memberanikan diri mengajak jajan Indah ke kantin. Biasanya memang selalu Indah yang mengajaknya duluan.

“Oh, Cally, boleh. Yuk, kita ramai-ramai ke kantin.” Senyum Indah dengan polos dan langsung menggandeng tangan Calibri.

“Ramai-ramai?” tanya Calibri mengerutkan alisnya.

“Ya, Vanda, Stefany dan Deasy juga mengajakku makan siang bareng mereka. Tapi kupikir mereka juga tidak akan merasa keberatan kalau aku membawamu ikut serta.” Ucap Indah masih dengan senyum polosnya.

Calibri mendadak menjadi muram, tapi dia diam saja dan mengikuti kemana pun dirinya dibawa.

“Vanda, aku ajak Calibri ya untuk makan bareng kita.” Senyum Indah.

Indah memang tidak pernah mengetahui kalau selama ini Vanda selalu iseng pada Calibri. Tentu saja melihat obyek yang kerap kali diganggunya tiba-tiba muncul di depannya, membuat Vanda kaget sekaligus merasa “sepertinya ada yang bisa aku rencanakan lagi kali ini.”

“Tentu saja!” senyum Vanda agak dibuat-buat. “Stefany, Deasy, yuk kita ke kantin sekarang.” Ajak Vanda kepada kedua sahabatnya.

Dan dengan dipimpin olehnya, mereka berlima itu pun berjalan menuju kantin beriringan. Tentu saja, keberadaan mereka berlima membuat banyak anak-anak yang lain merasa heran. Tiga orang cewek paling populer di sekolah berjalan bersama satu orang anak baru yang cantik, cerdas, sopan, ramah dan sangat menyenangkan, ditambah satu orang anak perempuan yang terkenal aneh dan super pendiam namun juga sangat pintar. Kombinasi yang sangat aneh. Aneh pada satu orang saja tepatnya.

Melihat mereka berjalan beriringan, terlihat ada sesuatu yang salah dan sangat mengganggu mata yang melihatnya. Itulah keberadaan Calibri di sana. Mereka berempat terlihat begitu bersinar dan menarik perhatian, seolah-olah menenggelamkan satu sosok anak perempuan yang juga berjalan bersama mereka.

Acara makan siang di kantin ternyata berjalan dengan lancar. Vanda ataupun kedua sahabatnya tidak bertingkah sama sekali. Mereka memesan makanan dan makan seperti biasanya, mengobrol seperti biasanya. Bahkan terkadang Vanda menanyakan tentang pelajaran yang tidak dipahaminya pada Calibri. Sampai akhirnya Vanda berhasil membuat Calibri berjanji untuk mengajarinya membuat tugas matematika setelah sekolah usai. Tentu saja Stefany dan Deasy ikut serta. Sedangkan karena harus bekerja dan sudah mengerjakan tugasnya, Indah akan segera pulang.

Akhirnya di sinilah Calibri berada sekarang. Bersama ketiga anak perempuan paling populer dan keren di sekolah, mengerjakan tugas matematika di perpustakaan sekolah.

“Membosankan. Walaupun aku sudah berusaha sekuat apapun, tetap saja aku tidak bisa memahami urusan vektor ini. Bagaimana kalau kita pindah tempat aja, di sini tidak asyik. Tidak bisa membawa makanan atau minuman.” Gerutu Vanda.

Calibri mengangkat wajahnya dari atas buku tugas matematika, “Apakah kau mau mengerjakan tugas di rumahku?”

Vanda mengangkat sebelah alisnya, “Tentu saja tidak. Itu akan sama membosankannya.” Cemooh Vanda.

“Rumahku menyenangkan. Setidaknya menurutku.” Gumam Calibri merasa sedikit tersinggung karena rumahnya dibilang membosankan. Vanda bahkan belum pernah melihat rumahnya, jahat sekali mengatakan hal yang keji seperti itu.

“Sudahlah. Kita akan mengerjakan tugas ini di rumahku!” ajak Vanda sambil mengedipkan sebelah matanya pada Stefany dan Deasy.

“Yeah, baiklah, kedengarannya menyenangkan. Setidaknya setelah mengerjakan tugas, aku bisa bersantai di rumahmu sambil berenang dan minum jus jeruk.” Ucap Stefany mulai membereskan buku dan alat-alat tulisnya.

“Yah, aku juga bisa sedikit tidur-tiduran dan mendengarkan musik. Perpustakaan ini membosankan sekali. Aku tidak berkutik sama sekali di sini.” Tambah Deasy.

Maka, satu jam kemudian, mereka berempat sudah sampai di dalam rumah Vanda yang sangat mewah dan luas. Namun kosong tentu saja, hanya ada pembantu dan tukang kebun saja.

“Orang tuamu masih di Perancis?” tanya Stefany iseng sambil mencomot sebungkus coklat yang ada di dalam toples.

“Ya, entah kapan pulangnya. Kenapa? Titip oleh-oleh? Tanpa kau minta pun Mama pasti sudah membawanya. Nenek centil itu selalu lupa kalau urusan bagi rapor putrinya, tapi tidak pernah lupa kalau untuk urusan shopping.” Seringai Vanda tidak bisa dipastikan apa sebenarnya yang dia rasakan, apakah senang ataukah sedih.

Maka mereka berempat pun termasuk Calibri masuk ke dalam kamar Vanda yang berukuran 10x8 meter. Kamar yang terlampau besar hanya untuk seorang anak perempuan yang masih beranjak remaja. Namun apa boleh buat kalau sang anak merupakan anak bungsu yang selalu ditinggal pergi oleh kedua orang-tuanya, maka apa pun yang diinginkan oleh sang anak sebisa mungkin dimasukkan ke dalam kamarnya. Sehingga tidak aneh kalau di kamar Vanda memiliki ruangan pakaian sendiri, kamar mandi pribadi, grand piano, televisi ukuran 52 inch lengkap dengan permainannya, bahkan meja besar seperti untuk rapat pun ada di dalam sana.

“Wow, kamarmu luar biasa,” puji Calibri merasa takjub melihat kamar tersebut.

Vanda merasa senang mendengar pujian itu, namun juga tidak merasa aneh, karena semua orang yang pernah masuk ke dalam kamarnya pasti mengatakan hal yang serupa.

“Jadi apa yang akan kita lakukan pertama kali?” tanya Deasy dan tanpa minta ijin dia langsung duduk di sebuah sofa empuk berbahan kulit berwarna hitam dan langsung menyalakan televisi.

“Saranku lebih baik kita nonton DVD aja.” Jawab Stefany dan ikut duduk di sebelah Deasy.

“Terserah kalian tapi aku agak kurang enak badan, jadi sebaiknya aku istirahat dulu.” Ucap Vanda, setelah meletakkan tas di atas meja, dia langsung berbaring di atas ranjangnya yang berukuran besar.

“Tapi... bukankah kita kemari untuk mengerjakan tugas?” tanya Calibri tidak paham karena mendadak ketiga orang temannya beralih mengerjakan hal lainnya.

“Aku tidak sanggup, Cal, tolong buatkan dulu ya. Aku lelah sekali.” Dalih Vanda berusaha terlihat sangat lemas. “Oh, aku pusing sekali. Lebih baik aku tidur dulu.”

Maka tinggalah Calibri seorang diri dengan niat awal yang masih sama, mengerjakan tugas, karena memang dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya di dalam kamar asing yang baru diinjak untuk pertama kalinya. Tidak mungkin juga kan kalau dia langsung menyalakan komputer dan asyik sendirian tanpa minta ijin pada yang punya kamar?

Akhirnya mau tidak mau dia duduk di kursi meja besar, mengeluarkan buku tugasnya dan mulai mengerjakan tugas yang seharusnya merupakan tugas Vanda untuk mengerjakannya.
***

“Waaahh..., terima kasih banyak, Calibri, kau sudah mengerjakan tugasku.” Peluk Vanda begitu dia bangun dari tidurnya satu setengah jam kemudian.

“Ya, kami benar-benar beruntung memiliki teman sepertimu.” Tambah Deasy dengan wajah yang terlihat usil.

Sedangkan Stefany hanya cekikikan saja di depan televisi sambil menerima telepon dari pacarnya. Calibri merasa malu mendapat ucapan terima kasih dari Vanda, apalagi sampai dipeluk olehnya.

“Ti-tidak masalah, kasihan juga kamu karena sedang kurang enak badan.” Senyum Calibri.

“Mungkin kau harus sering-sering main kemari untuk mengerjakan tugas bersama kami.” Ucap Stefany begitu dia selesai menerima telepon. “Ngomong-ngomong aku harus pergi sekarang. Aku janjian sama Anthony untuk menjemputnya selepas latihan basket.” Pamit Stefany mencium pipi kedua temannya, namun melewati Calibri.

Setelah Stefany menghilang, Calibri pun bertanya pada Vanda, “Stefany punya pacar namanya Anthony anak basket?”

Vanda mengangguk dengan cuek sibuk dengan telepon genggamnya.

“Anthony itu temannya Andika?” tanya Calibri lagi.

Awalnya Vanda acuh tak acuh, namun begitu mendengar pertanyaan Calibri yang jarang sekali bertanya ataupun mengobrol dengan orang lain tentu saja menimbulkan tanda tanya dalam kepala Vanda. “Kamu tahu Andika?”

“Ng..., tentu saja, siapa yang tidak akan mengetahui kapten tim basket SMP kita?” jawab Calibri bingung dengan pertanyaan Vanda.

Vanda memandang Calibri dengan tidak percaya, kemudian dia melirik Deasy yang awalnya tidak terlalu peduli. Namun begitu melihat mata Vanda, Deasy tahu kalau dia harus ikut ambil bagian dalam skenario dadakan ini.

“Iya, sih, Andika emang ganteng banget, pinter, tajir, anak pejabat, jago basket, populer banget, banyak anak cewek yang ngejar-ngejar dia.” Ucap Deasy dengan logat centilnya.

Mendengar ucapan Deasy, Calibri menjadi sedikit murung. Walaupun dia sudah tahu kalau Andika banyak yang suka, namun tetap saja agak sulit untuk menerima berita itu secara langsung. Melihat ekspresi Calibri yang agak murung, entah kenapa membuat Vanda sedikit merasa girang.

“Mmm..., kamu suka Andika ya?” tembak Vanda langsung.

Calibri langsung kaget, “A-apa maksudmu? Kenapa berpikir kalau aku menyukai Andika?”

“Yah, karena kamu itu polos banget sehingga gampang ditebak isi hatinya.” Seringai Deasy menggigit permen lolipopnya.

Calibri menghela nafas, “Tapi jangan bilang siapa-siapa ya,”

“Tentu saja. Jadi kenapa kau tidak cerita pada kami?” senyum Vanda penuh arti.
***

“Hai!” sapa Indah mengagetkan Calibri karena tiba-tiba Indah muncul dan menepuk pundaknya.

“Hai, Indah...,” balas Calibri tersenyum tipis.

“Gimana acaranya kemarin? Asyik?” senyum Indah dan langsung duduk di kursinya sendiri.

“Yah, lumayan asyik kok!”

“Ngapain aja di sana? Lengkap banget kan kamar Vanda, mau main apa juga ada di sana.”

“Ya, aku sempat main dance-dance revolution. Lumayan menguras keringat.”

“Hahaha..., mending, waktu aku main ke rumahnya, Vanda mengajakku main basket di halaman rumahnya.”

“Kamu pernah ke rumahnya?” tanya Calibri sedikit terkejut. Ternyata hubungan pertemanan Indah dengan Vanda berkembang dengan pesat, sedangkan Indah sama sekali belum pernah bermain ke rumahnya.

“Tentu saja. Menyenangkan sekali.” Senyum Indah merasa biasa saja.
***

Ketika istirahat siang, Vanda tidak mengajak makan siang Indah seperti biasanya. Ada yang harus Vanda lakukan sehingga akhirnya hanya Indah dan Calibri saja yang pergi ke kantin. Ketika di koridor dalam perjalanan menuju kantin, mereka berpapasan dengan Andika yang kebetulan juga sedang berjalan berlawanan arah dengan mereka.

Mereka pun berpapasan, namun Calibri melihat ada sebuah keanehan yang dilakukan oleh Indah. Indah melirik Andika dengan penuh arti dan juga senyuman yang sangat manis terpampang di wajahnya. Andika pun membalasnya dengan senyuman. Namun mereka tidak saling mengobrol dan lewat begitu saja.

Calibri merasa ada sesuatu yang aneh, “Ada apa kau sama Andika?”

“Oh, kau melihatnya. Sudah kukira kalau kau mempunyai mata yang tajam. Apa kau tidak tahu kalau Andika itu suka sama kamu?” ucap Indah dengan suara yang ceria.

Mendengar ucapan Indah tentu saja membuat Calibri terheran-heran, “Apa?”

“Ya, aku baru mengetahuinya sekarang. Vanda memberikan surat padaku yang katanya dari Andika, isinya minta dikenalkan sama kamu.”

Tetap saja Calibri hanya melongo masih tidak paham dengan ucapan Indah.

“Pulang sekolah nanti, aku janjian sama Andika di gerbang sekolah. Aku akan mengenalkanmu di sana.”
***

“Andika, ini Calibri, teman sebangku aku dan juga teman paling baik dan pintar yang pernah aku miliki.” Senyum Indah memperkenalkan Calibri ketika pulang sekolah.

Andika pun menjabat tangan Calibri dengan erat, “Hai!”

“Hai!” Calibri membalas sapaan Andika dengan pelan.

“Jadi bisa kita berangkat sekarang?” ajak Andika.

“Tentu saja.” Senyum Indah.

“Hah, mau kemana memangnya?” tanya Calibri terheran-heran merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa sekarang ini.

“Tentu saja kita akan jalan-jalan ke mall.” Bisik Indah di telinga Calibri ketika mereka berjalan bersama menuju mobil jemputan Andika. “Dia kan mau mendekatimu.”

Calibri tidak bisa berkomentar mendengar kalimat yang terakhir. Di dalam mobil pun dia hanya diam dan membiarkan Indah yang banyak berbincang-bincang dengan Andika. Ternyata Andika lumayan ramah dan lucu. Wawasannya juga luas, tidak heran karena nilai-nilainya selalu di atas delapan.

Ketika berada di mall pun, Indah banyak mengambil peran. Namun Calibri tidak ambil pusing, karena dia sadar diri kalau untuk urusan ini dia bukan ahlinya. Berkali-kali Indah menegur Calibri agar lebih aktif, namun dia hanya mengangkat bahunya. Kalau sudah seperti ini, siapapun akan bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang sedang didekati oleh Andika, karena Andika lebih terlihat antusias ketika menatap wajah Indah. Namun anehnya Indah tetep keukeuh kalau yang sedang didekati oleh Andika adalah Calibri.
***

Namun upaya pendekatan itu tidak hanya berhenti sampai dengan jalan-jalan di mall saja. Ketika di dalam sekolah pun, upaya pendekatan itu tetap berjalan. Dimana ada Indah di sana pasti ada Calibri. Hanya orang buta saja yang tidak bisa melihat kalau upaya pendekatan itu memang ditujukan untuk Indah. Namun entah mengapa Indah tetap merasa yakin kalau Andika mendekatinya karena ingin dekat dengan Calibri.

“Jangan pesimis Calibri, Andika itu sering bertanya tentang kau padaku.” Cerita Indah dengan riang berusaha membangkitkan semangat Calibri.

Sebenarnya Calibri tidak mau percaya, entah mengapa hatinya tidak mau percaya. Namun melihat kesungguhan hati Indah untuk mendekatkan dirinya dengan Andika, membuatnya sedikit merasa tersentuh. Mungkin memang tidak ada salahnya kalau dia sedikit berharap kali ini, batin Calibri. Ya, segalanya butuh perjuangan bukan?

Tapi lain halnya dengan Andika yang mulai merasa tidak sabar dengan keberadaan Calibri di antara dirinya dan Indah. Padahal berkali-kali dia berusaha mengirimkan tanda pada Indah kalau dia hanya ingin berdua saja agar bisa menyatakan perasaannya. Apakah memang harus dengan cara frontal mengatakan langsung pada Calibri agar menyingkir sebentar?

“Hallo, Andika,” sapa Stefany masuk ke dalam kelas 8-B, “Anthony mana?”

“Hai, Stef, pacarmu itu lagi ke toilet kayaknya.” Jawab Andika masih membereskan buku-bukunya karena memang sudah saatnya sekolah bubar. “Oh, apakah di kelas masih ada Indah?” tanya Andika.

“Ya, tentu saja.”

“Sendirian?”

“Sama teman sebangkunya itu tentu saja. Kenapa sih?” tanya Stefany merasa kesal pada Andika yang tumben-tumbenan cerewet. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu, “Ah, jadi bagaimana hubunganmu dengan Indah? Sudah jadian?”

“Boro-boro, Calibri itu selalu saja mengganggu. Ada apa sih dengan cewek itu, kenapa selalu menempel pada Indah?” keluh Andika.

Stefany tersenyum, “Yah, memang anak itu sedikit aneh dan tidak punya teman selain Indahmu itu. Makanya tidak heran kalau anak itu sedikit tidak rela kalau Indah direbut sama kamu.”

“Yang benar saja, memangnya dia itu apa sampai berani melarang aku dan Indah jadian? Bener-bener ngeselin banget!”

“Yaaa..., dilabrak aja langsung, suruh minggir. Susah-susah amat!”

Andika menghela nafasnya, “Tidak bisa begitu juga, itu kasar namanya dan bisa menyakiti hatinya, padahal dia pasti tidak bermaksud jahat dengan selalu menghalang-halangi hubunganku dengan Indah.”

Stefany tertawa mendengar ucapan Andika, “Kamu baik banget sih, Dik! Ya udah, terserah kamu aja deh maunya gimana. Kalau tetap mau seperti ini, yang sabar aja menghadapi kelakuan cewek itu.”

Setelah Stefany mengatakan itu, tak lama kemudian Anthony masuk ke dalam kelas. “Hai, Beb, udah lama di sini?” tanya Anthony mengambil tas ranselnya.

“Udah bulukan aku nungguin kamu di sini. Lagian ke toilet aja lama banget sih!” rajuk Stefany.

Anthony merasa gemas melihat bibir Stefany yang sedikit manyun, “Duh, Sayang, ya sudah kamu mau apa sekarang, aku beliin deh! Dik, aku pulang duluan ya!” pamit Anthony.

Andika hanya mengibaskan tangannya untuk mengusir kedua sejoli yang terkadang membuatnya jengah itu. Sekarang keputusan berada di tangannya. Hubungan ini tidak bisa dibiarkan tetap berlangsung seperti ini. Harus melakukan sesuatu.
***