Selasa, 21 Maret 2017

Liburan ke Brunei Darussalam? Nggak Kalah Seru dari Negara Lain


Istana Nurul Iman
Source : kabarmakkah.com

Pernah nggak sih membayangkan bakal liburan ke Brunei Darussalam? Meski letaknya dekat, namun negara ini memang masih kalah populer dari Malaysia, Singapura, dan destinasi wisata dalam negeri. Padahal nih, Brunei juga punya banyak tempat wisata indah yang nggak bakal kamu temui di tempat lain.

Buat kamu yang niatnya keliling Asia Tenggara, wajib banget mampir ke Brunei Darussalam. Kalau nggak, tur Asia Tenggaramu jadi nggak lengkap dong. Sebelumnya simak petualangan aku di Malaysia (baca: di sini)

Tapi, apa saja sih yang bisa kamu lakukan di Brunei? Kira-kira seperti apa Brunei itu?

Istana Nurul Iman

Sudah tahu kan kalau Brunei Darussalam itu negara kerajaan yang dipimpin oleh seorang Sultan. Keluarga kerajaan Brunei Darussalam tinggal di Istana Nurul Iman yang terletak di Bandar Seri Begawan, ibukota Brunei.

Istana ini sangat megah, dibangun di atas tanah seluas 200.000 meter persegi. Di dalamnya ada kubah emas, dan baik interior maupun eksterior istana ini sangat mewah.

Kalau kamu liburan ke Brunei waktu Lebaran, kamu bisa masuk ke dalam istana dan bertemu dengan Sultan. Tiap Lebaran, keluarga kerajaan Brunei membuka pintu untuk warga yang ingin halal bi halal dengan Sultannya. Asyik ya.

Baca juga: Petualangan berlibur ke Thailand

Masjid James 'Asr Hassanil Bolkiah

Nggak cuma kubah di istana kerajaan yang berlapis emas, kubah-kubah di Masjid James 'Asr Hassanil Bolkiah juga dilapisi dengan emas asli. Nggak tanggung-tanggung, kubah emas yang ada di masjid ini jumlahnya 29! Semuanya pakai emas asli, bukan kw apalagi sepuhan. Kebayang kan megahnya seperti apa.

Masjid James 'Asr Hassanil Bolkiah
Source: wikipedia.org

 Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien

Masjid James 'Asr Hassanil Bolkiah boleh punya 29 kubah emas, tapi masih kalah megah dibanding dengan Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien. Tak hanya berhias 28 kubah yang megah, Masjid ini juga akan nampak bersinar di malam hari. Sangat menakjubkan.

Kampong Ayer

Italia punya Venesia, Brunei punya Kampong Ayer yang dikenal sebagai desa terapung terbesar di dunia. Kampung ini berada di atas permukaan air dan kalau kamu mau kemana-mana, harus naik perahu atau yang mereka sebut dengan taksi air. Antar rumah warga dan berbagai fasilitas di sana dihubungkan dengan trotoar unik yang juga mengapung di atas air.

Billionth Barrel Monument

Sudah tahu kan Brunei kaya dari apa? Ya, mereka adalah salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia. Saat ini, posisi Brunei adalah negara nomor 4 penghasil minyak mentah di dunia. Pada tahun 1991, Brunei membangun Billionth Barrel Monument sebagai tonggak kesuksesan mereka mendulang minyak dan gas alam cair sebesar 1 miliar barrel. Pantas saja mereka sangat kaya ya.

Billionth Barrel Monument
Source: wikimapia.com

Keliling Bandar Seri Begawan

Penduduk Brunei Darussalam tidak banyak, dalam catatan tahun 2016 populasi negara ini hanya sekitar 400 ribu jiwa saja. Kamu nggak akan menemukan kemacetan atau riuh rendah kehidupan malam di sana.

Tapi ini justru yang menjadi keunikan Brunei. Kamu bisa berjalan-jalan dengan santai di malam hari. Menyusuri kota dengan tenang dan damai.

Siapkan tiketmu!

Nggak ada maskapai yang lebih cocok buat terbang ke Brunei daripada Royal Brunei. Maskapai ini kebanggaan masyarakat Brunei dan memiliki kualitas yang sangat bagus. Cara beli tiketnya pun nggak susah, karena kamu bisa cari tiket Royal Brunei di Traveloka.

Terbang dengan Royal Brunei juga nggak bakal menguras kantong kamu. Apalagi di Traveloka sering ada promo, termasuk untuk penerbangan Royal Brunei. Jadi kamu bisa menghemat biaya dan dipakai buat jalan-jalan dan mencicipi wisata kuliner di Brunei Darussalam.

Yuk, terbang ke Brunei!

Minggu, 12 Maret 2017

Having Fun di acara BFF 2017

781
Hai guys, ada berita menarik nih! Seru abis untuk dihabiskan bersama keluarga maupun geng! ^0^
Jadi, tanggal 8 Maret kemarin, aku baru aja menghadiri press conference acara BFF 2017 : Festival, Art, Market & Music by Blibli.com. Pada awalnya, aku yang sempat bertanya-tanya, BFF itu kepanjangan apa sih? Best Friend Forever gitu? Hehehe.... Tapi ternyata BFF itu kepanjangan dari Blibli Fun Festival. Dari press conference kemarin, acaranya kayaknya bakalan seru banget nih! Artisnya banyak bok! Belum lagi banyak produk-produk lokal berkualitas yang dipamerkan di sana.

Okelah-okelah, daripada bingung aku ngomongnya loncat-loncat, aku kasih aja ya laporannya mulai dari acara pembukaan.
berfoto dulu di depan bannernya dong ^^
Di BFF 2017 ini nantinya akan diperkenalkan kepada masyarakat produk-produk kreatif lokal dari para finalis The Big Start Indonesia 2016, menampilkan karya seni talenta anak bangsa serta dimeriahkan oleh aksi panggung musisi kenamaan tanah air dan internasional yang semuanya terangkum dalam dua hari rangkaian festival.

beberapa hasil karya dari pada kreatif lokal

beberapa hasil karya dari pada kreatif lokal


Selama dua hari, 8-9 April 2017, BFF 2017 akan menghadirkan talenta kreatif lokal sebanyak enam orang di bidang seni, belasan solo musisi maupun grup band. Beragam produk kreatif para merchant Blibli.com, serta finalis termasuk para pemenang The Big Start Indonesia 2016. Blibli.com mengundang para Artworkers, seperti ilustrator Hari Prast feat. Sheila Roswitha, Diela Maharani, Kiswinar, Kemala Putri, dan The Jadugar.

Selain para Artworkers yang akan hadir, banyak sekali musisi top tanah air yang akan turut menyemarakan acara ini, yaitu Maliq & D'Essentials, Naif, Kahitna, Rendy Pandugo, Sore Band, White Shoes & The Couples Company, DJ RBA, Danilla, DJ Osvaldo, Deaf People Project by Andin Komalla, Naura, Endah N Rhesa, Teza Sumendra, dan Dipha Barus. Enggak hanya lokal, ada artis internasionalnya juga, seperti Panama, Blonde, Goldroom, dan RAC.

Selain acara seni yang bisa dinikmati oleh kita, BFF 2017 ini juga akan menjadi ajang belanja seru karena kehadiran sejumlah merchant Blibli.com yang telah terseleksi. Mulai dari apparel, aksesori penampilan, personal & body care, perangkat rumah tangga berbasis kayu, dan kerajinan berbahan kertas. Produk-produk ini merupakan brand lokal yang akan dihadirkan oleh para finalis dan pemenang The Big Start Indonesia 2016, yaitu Peek.Me (Arlin Chondro), Pijakbumi (Rowland Asfales) dan Gauri Art Division (Dhamar Perbangkara).

Para pemenang The Big Start Indonesia 2016 (ki-ka)
Peek.Me (Arlin Chondro), Gauri Art Division (Dhamar Perbangkara), Pijakbumi (Rowland Asfales)

Teza Sumendra dan Maliq & D'Essentials
"Ajang BFF 2017 menjadi spesial, karena menggabungkan hiburan untuk remaja, dewasa, dan terutama untuk keluarga, dengan sarana untuk berbelanja barang-barang unik hasil karya pengusaha lokal. Beberapa produk bahkan akan secara ekslusif dijual untuk pertama kalinya di ajang ini," jelas Jefrey Maeda, Head of Business Development Blibli.com.

Dan menurutku juga, sebagai seorang ibu rumah tangga, ajang ini memang terlihat sangat menyenangkan sebagai event wajib datang yang ramah terhadap keluarga. Di mana selama ini, hiburan bersama pasangan itu, kalau enggak ke mall, ya paling di rumah aja. Atau untuk reuni bersama teman-teman dan keluarga besar yang sulit banget untuk ketemuan. Kalau pun mau ketemuan, pasti ada aja yang menolak karena malas kalau pergi ke mall. Tapi dengan adanya acara ini, selain dapat belanjanya, musik gratis dari artis ternama, bisa makan-makan, anak juga senang.

Di acara ini tentu saja bakalan ada kulinernya, lengkap makanan besar dan kecil, minuman ringan, semuanya ada. Jadi jangan takut nanti kelaparan. Spot untuk permainan anak juga pasti ada lho, seperti mini outbond. Jadi, bagi yang bawa anak, anaknya pasti senang banget diajak ke tempat ini. Terus terang, saya ini penikmat festival semacam ini. Acaranya di outdoor, jadi enggak harus di dalam ruangan berAC terus. Ada pertunjukan seninya, bisa belanja, dapat hiburan dari artisnya.

Terus tiket masuknya gimana? Untuk penjualan pre-sale tiket BFF 2017 berlangsung antara 1-16 Maret 2017. Untuk dewasa RP. 125.000 (1 hari) dan Rp. 199.000 (2 hari). Sementara untuk tiket anak dijual langsung dapat digunakan untuk dua hari yaitu Rp. 79.000. Khusus untuk pelajar ada penawaran menarik, hanya Rp. 100.000. Setelah pre sale berlaku harga tiket Rp. 325.000 dan Rp. 449.000. Jadi, tunggu apalagi? #Blisekarang ya!

Minggu, 26 Februari 2017

Sumpah seorang Ibu

781

Pernah dong kita membaca sebuah artikel atau broadcast tentang seorang anak yang membuat sang ibunda marah, dan menyumpahi kalau anak tersebut akan menjadi imam besar di masjidil haram? Iya, beliau adalah Abdurrahman bin Abdul Aziz As Sudais An Najdi, seorang imam besar di masjidil haram di mana tartilnya menjadi favorit kebanyakan umat muslim di seluruh dunia.

Atau mungkin kisah yang berasal dari negeri sendiri, Malin Kundang. Pasti kalian semua tidak asing lagi dengan kisah ini dong. Kisah tentang seorang anak laki-laki yang tidak mau mengakui ibunya sehingga sang ibu murka dan mengutuknya menjadi batu.

Dari kedua kisah bertolak belakang di atas, ada satu kesamaan yang bisa kita ambil benang merahnya, yaitu sumpah seorang ibu.

"Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu. Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat di mana Allah mengabulkan doa kalian...." (HR. Abu Dawud)

Dari hadist di atas, merupakan peringatan bagi kita agar senantiasa menjaga lisan. Oke, lalu, ada pertanyaan menarik yang pernah saya dapatkan dari salah seorang guru saya ketika membahas masalah ibu.

"Apa yang terjadi selanjutnya pada ibunya Malin Kundang? Apakah beliau masuk surga?"

Sebuah pertanyaan yang terdengar remeh namun sangat dalam dan menohok. Ah ya, benar... kita sama sekali tidak memikirkannya. Selama ini, kita hanya mengambil hikmah kalau jangan sampai kita berbuat durhaka pada ibu kita. Namun, dalam sebuah kehidupan pasti ada saja ujian yang tidak akan pernah kita duga. Entah apakah itu ujian ekonomi, ujian orang tua, ujian pasangan hidup, atau bahkan ujian dari anak.

Oke, kita kembali lagi pada pertanyaan pokok di atas. Sebelumnya mari kita melihat hadist berikut.

"Tidak akan masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan." (HR. Muslim)

Dari hadist di atas, yang jadi pertanyaan besarnya adalah "Apakah definisi dari sombong?"

Selama ini, kita mengetahui kalau sombong itu menghargai diri secara berlebihan, congkak, pongah (menurut KBBI).

Sedangkan menurut hadist :

Ada seorang lelaki dari sahabat Rasulullah berkata, "Wahai, Rasulullah, salah seorang dari kami ingin agar bajunya bagus, demikian pula sandalnya bagus. Apakah itu termasuk kesombongan, wahai Rasulullah?" 
Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Adapun kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."

Dari kedua definisi di atas, mungkin tanpa kita sadari kita termasuk di dalamnya. Ketika kita merendahkan orang lain, bisa dibilang itu berarti kita meninggikan diri kita sendiri. Ketika kita mengutuk anak kita atau siapapun itu, tanpa sadar kita sudah bersikap sombong terhadap Allah. Karena sesungguhnya yang bisa mengutuk atau melaknat hanyalah Allah. Tentu saja kita bisa mengetahui siapa-siapa saja yang dikutuk dan dilaknat oleh Allah di dalam Alquran dan hadist. Oleh sebab itu, hendaknya setiap muslim menjauhkan diri dari sifat sombong. Dari sifat sombong ini tentu saja berhubungan dengan dengan masalah lisan atau ucapan. Seringkali kita sebagai manusia tergelincir dengan ucapan kita sendiri. Karena sesungguhnya, tiada sesuatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf (50):18)

OK, sekarang kembali ke topik utama. Pertanyaannya selanjutnya adalah, setelah kondisi anaknya terpuruk, apa yang akan dirasakan oleh sang ibu? Saya yakin seyakin-yakinnya, kalau tidak ada satu pun di dunia ini, seorang ibu yang rela dan ikhlas melihat anaknya menderita. Seorang ibu rela berbohong kalau dia tidak lapar, agar anak-anaknya bisa makan dengan kenyang. Bahkan sepertinya, seorang ibu rela kehilangan seluruh hartanya demi sang anak. Jadi, pertanyaannya, untuk apa sumpah serapah itu? Karena kalau saya perhatikan, banyak ibu di Indonesia ini ketika sakit hati, beliau malah mengutuk anak tersebut. Misalnya dengan kalimat, dasar anak nakal, dasar anak tidak tahu diuntung, dasar anak durhaka, dsb. Hati-hati wahai ibu, ucapanmu itu bisa jadi adalah doamu yang diijabah oleh Allah.

Jadi, menurut kalian, ibunya Malin Kundang itu masuk surga atau neraka?

Sekian tulisan blog ini. Mohon maaf kalau ada salah-salah kata. Sebelum mengakhiri saya hanya ingin menambahkan kalau postingan blog ini bukanlah postingan agama. Kalau ada kesalahan hal ini sepenuhnya merupakan milik saya. Mungkin kalau saya hanya membahas dari satu sisi, tidak adil ya. Selanjutnya inshaaAllah saya akan posting mengenai bakti anak pada orang tua.






Minggu, 19 Februari 2017

KDrama : GOBLIN

781

OK, kali ini postingannya bakalan lain dari sebelumnya. Biasanya kan saya menulis soal traveling, pengalaman, dan buku ya. Kali ini, saya mau ngomongin soal KDrama aja deh. Biar kekinian gitu. Huehehehehe....

Dan seperti perempuan lainnya yang saat ini sedang baper-bapernya dengan drama Goblin, atau kalau judul Koreanya 'Guardian : The Lonely and Great God', saya pun akan ikut membahas tentang drama ini.

Jadi, selain karena saya suka banget sama tokoh utamanya yaitu KIM SHIN yang dimainkan oleh aktor ganteng Gong Yoo, kisahnya sendiri ternyata benar-benar Sorrowfull Love, Cinta yang benar-benar menyedihkan, menunggu ratusan tahun hanya demi Pertama dan Terakhir sang Pengantin Goblin.



Dan, bukan bermaksud spoiler bagi yang belum menontonnya, saya akan meringkas terlebih dahulu kisahnya ya.

Adalah Kim Shin, seorang jenderal perang dari kerajaan Goryeo yang begitu dicintai dan disegani oleh rakyatnya. Dia bersumpah setia untuk selalu menjaga raja Goryeo berikutnya yaitu Wang Yeo. Sayangnya, di samping Wang Yeo berdiri seorang penasihat yang licik, bernama Park Jung Woon. Sebenarnya Park Jung Woon bermaksud merebut singgasana kerajaan itu sendiri dan menjadi raja. Namun sesuai hukum kerajaan, kalau yang berkuasa adalah keturunan berikutnya, hal itu tentu saja menjadi batu sandungan bagi sang penasihat. Maka dengan liciknya, beliau meracuni semua keturunan raja, sehingga mati muda, termasuk Wang Yeo. Rencananya terganggu ketika sang raja muda dijodohkan dengan adik dari sang Jendral bernama Kim Sun. Sang Penasihat pun berusaha meracuni Kim Sun dengan memberi jamu yang perlahan-lahan membuat lemah, jamu yang sama yang diberikan pada raja sebelumnya. Tapi Wang Yeo marah dan memerintahkan agar Kim Sun tidak boleh sedikit pun meminum jamu tersebut.

OK, dari sini, jadi sebenarnya sang raja sudah tahu dong niat jahat penasihat tersebut? Hmm.... tapi karena sepanjang hidupnya yang ada di sisinya adalah sang penasihat, Wang Yeo muda tidak berdaya untuk menyingkirkan. Mungkin baginya saat itu sang penasihat sudah seperti orang tuanya ya. Bagaimana pun dia masih labil dan mudah dipengaruhi.

Kemudian, dengan bisikan-bisikan dari sang penasihat yang mengatakan kalau rakyat lebih suka dan mencintai Panglima Kim Shin daripada raja sendiri, Wang Yeo pun merasa cemburu. Beliau tidak mau membunuh Wang Yeo, atas bisikan penasihat, jadi beliau memakai cara halus, yaitu dengan mengirim sang panglima sejauh mungkin dari pusat kerajaan. Bahkan dengan terang-terangan beliau memberi isyarat agar Kim Shin tidak usah kembali lagi.

Tapi, Kim Shin terlalu terbebani oleh janjinya pada raja yang sebelumnya, agar selalu melindungi raja muda yang sekarang, selalu berada di sisi sang raja muda. Sebenarnya, Kim Sun, sang permaisuri sekaligus adik dari Kim Shin, sudah mengatakan terang-terangan pada Wang Yeo, kalau musuh dia adalah Park Jung Woon, sang penasihat. Namun, karena sudah dibutakan oleh rasa cemburu, Wang Yeo tidak mau mendengarnya.

Maka, terjadilah tragedi itu. Di mana Kim sun, semua bawahan yang setia pada Kim Shin dan juga Kim Shin sendiri, mati. Karena tragedi ini jugalah sang Dewa memberikan berkahnya.

"The souls of your people are saving you. However, the blood of thousands (people) are on your sword as well as the blood of your enemies who're also descendants of deities. You shall be immortal and watch your loved ones die. You won't forget a single death as this is the award I give you and the punishment you shall receive. Only the Goblin's bride shall remove the sword. Once the sword is removed, you shall return to ash and be at peace." 

Jadi, itulah berkah sekaligus hukuman dari sang Dewa bagi Kim Shin. Dia pun menjadi immortal, tidak bisa mati, tidak menua, dan memiliki kekuatan.

"He (Goblin) is... the water, the fire, the wind, the light and the dark. And he was once human."

Sebuah berkah dan sekaligus hukuman. Dimana dia tidak akan pernah melupakan kematian orang-orang yang setia dan dia sayangi.

"I once desired my endless life a reward, but in the end it's a punishment." - Kim Shin.

Berkali-kali dia mencoba untuk mencabut pedangnya sendiri, dan sia-sia. Karena hanya pengantin goblinlah yang bisa mencabut pedang tersebut.

Maka, ratusan tahun (tepatnya lebih dari 900 tahun) dia menunggu. Ternyata, pengantin Goblin itu, dia sendiri lah yang menandainya. Ketika seorang wanita hamil dalam keadaan sekarat karena tabrak lari, memohon dengan putus asa berkah Dewa, untuk menyelamatkan bayi dalam kandungannya. Sang Goblin pun mendengar doa tersebut dan saat itu dia sedang baik hati. Maka, dia pun menyelamatkan sang ibu dan janin di dalam kandungannya.

Pengantin Goblin itu ialah Ji Eun Tak, seorang anak perempuan yang menjalani hidup dalam kesusahan namun memiliki karakter yang positif dan periang. Umur 9 tahun, Eun Tak ditinggalkan oleh sang ibu. Kemudian dia dirawat oleh sang bibi. Namun, daripada dirawat, lebih tepatnya dia seperti dijadikan pembantu oleh keluarga bibinya. Namun, Eun Tak tetap menjalani hidupnya dengan positif dan semangat walaupun menderita. Oh ya, karena sentuhan tangan Goblin, Eun Tak jadi memiliki kemampuan untuk melihat hantu/arwah bahkan Grim Reaper dan berkomunikasi dengan mereka.

Pada saat ulang tahunnya yang ke 19, Eun Tak memohon pada Dewa untuk membantu hidupnya. Di tangannya ada kue tart dan sebatang lilin. Dia pun meniup lilin tersebut. Dan ajaib, sang Goblin terpanggil. Dan itulah pertama kalinya mereka bertemu.

******

OK, jadi itu kurang lebih sekilas dari latar belakang kisahnya ya. Untuk selanjutnya, lebih baik kalian menontonnya aja langsung.

Secara keseluruhan, drama Goblin ini benar-benar sedih walaupun tentu saja dikemas dengan adegan-adegan lucu yang heart warming, membuat kita sebagai penonton senyum-senyum dan berdebar-debar sendiri. Padahal, secara keseluruhan kisah Goblin ini benar-benar, (saya ulang) benar-benar sedih banget. Coba deh, kalian pikirkan. Selama 900 tahun kalian menunggu cinta sejati. Berarti enggak pernah merasakan cinta dong? Enggak pernah dibelai oleh wanita. Hanya menunggu, mencampuri hidup manusia dengan memberikan satu atau dua keajaiban. Kok, bisa ya?

Udah gitu, ketika bertemu sang Pengantin Goblin, pedangnya harus dicabut dan dia akan berubah menjadi debu. Hal ini bisa masuk akal kalau rasa itu tidak ada. Oleh sebab itu, awalnya sang Goblin bermaksud mencabut pedang itu secepatnya, sebelum perasaannya tumbuh semakin dalam pada Eun Tak. Tekadnya semakin bulat ketika dia menyadari perasaannya, di mana Eun Tak merupakan cinta pertamanya.

"Mass isn't proportional to volume. 
A girl as small as a violet, 
a girl who moves like a flower petal - 
is pulling me toward her with more force than her mass. 
Just then, like Newton's apple, 
I rolled toward her without stopping until I fell on her with a thump.
My heart keeps bouncing between the sky and the ground.
It was my first love." - KIM SHIN


Lirik quotesnya so sweet banget ya. Sediiih... apalagi pas diucapin pakai bahasa Koreanya. Belum lagi ada saat di mana mendadak sang Goblin bisa melihat masa depan Eun Tak ketika sudah berusia 29 tahun. Iya, salah satu kelebihan sang Goblin adalah bisa melihat kilasan masa depan seseorang, tentu saja tidak mendetail hanya garis besarnya. Sang Goblin tertegun ketika melihat kilasan masa depan tersebut. Bahkan air matanya sampai menetes.

"At the age of 29, you're still shining. But I am not by your side. My life of eternity has finally come to an end. Times after my death, you are still here. You have forgotten me and your life is perfectly complete with me gone. I have to disappear to make you smile. In the end, that's the decision I've made." - KIM SHIN

Banyak banget quote-quote sedih di dalam drama ini. Belum lagi ditambah dengan Original Soundtracknya yang asli keren banget. 

4. Beautiful, Crush aku suka banget yang ini
6. Who are you, Sam Kim ini juga sedih banget

OK, jadi selain kisah cinta Kim Shin dan Ji Euntak yang membuat hati teriris-iris, kisah cinta sang Grim Reaper dan Kim Sun a.k.a Sunny pun enggak kalah bikin hati teriris. Jadi, walaupun kita dibuat tertawa-tawa dengan drama ini, padahal inti kisahnya bikin nangis bombay. Makanya sampai saat ini aku susah banget move on nya dari drama ini. 

Dari pada penasaran, mendingan nonton langsung deh. Atau mau dengerin OSTnya boleh kok! 
Sebagai penutupan aku kasih aja photonya Wang Yeo deh! Siapa ya ini? Hihihihi





Selasa, 07 Februari 2017

Memaafkan diri sendiri

781

Kalau baru pertama kali bertemu denganku, pasti akan mengira kalau wanita ini hanya mengalami hal-hal yang baik dalam hidup. Bisa jadi sih, karena sepertinya sejak dulu aku termasuk (sangat) santai dan tidak pernah terlalu membesar-besarkan sebuah masalah, bahkan cenderung melupakannya. Bahkan sampai dengan kuliah semester awal, seorang dosen pernah bertanya, "Apa masalah kamu dalam hidup ini?"

Dan aku yang enggak bisa langsung jawab gitu. Karena sepertinya, semua masalah yang aku alami saat itu bukan masalah yang membuat tertekan. Paling cuma pusing karena masalah kuliah. Walaupun uang jajan pas-pasan, tapi aku enggak pusing mikirin biaya kuliah, enggak pusing sama masalah keluarga. Intinya enggak ada masalah yang bisa membuat aku sedemikian tak berdayanya.

Tapi seperti halnya janji Allah yang akan menguji setiap ummatNya, itulah yang terjadi padaku.

Well, tulisan ini bukan akan berisi curhatan masa lalu, jadi jangan harap aku akan menceritakannya di sini. Hehehe....

Intinya, ada pada satu titik di mana aku berada di titik nol, tidak memiliki apapun. Gelar kuliah pun jadi percuma dan tidak ada artinya. Ketika aku ditarik dari peredaran kehidupan sosial, dikurung di dalam rumah dan tidak boleh pergi kemanapun.

Pada satu titik ini, aku sudah merasa kalau ada satu sayapku yang sudah patah dan tidak akan pernah bisa disembuhkan kembali, yaitu semangat berusaha. Aku jadi terbiasa bersembunyi di balik punggung seseorang untuk menyelesaikan semua masalah yang ada. Dan aku terbiasa hidup nyaman. tanpa tantangan, tanpa aku sadari apa yang sebenarnya terjadi pada jiwaku.

Saat itu, aku pun menulis, walaupun belum mengetahui yang namanya Writing Therapy. Well, it helps! Setidaknya, walaupun hidupku pada kenyataannya tidak seperti yang aku harapkan, kisah di dalam tulisanku bisa memiliki akhir yang lebih membanggakan dan membahagiakan.

Walaupun secara kasat mata semuanya sudah tampak normal dan baik-baik saja, ada saat di mana aku selalu menyalahkan diri sendiri ketika situasi di sekitar aku tidak seperti yang diharapkan. Ketika aku tidak bisa melakukan pekerjaan paling mudah, ketika rasa malas sangat menguasai diri sehingga selalu menunda-nunda pekerjaan, ketika merasa tidak berdaya membantu perekonomian keluarga dan melihat suami bekerja membanting tulang sampai kurus susah gemuk. Saat-saat tidak berdaya seperti itu biasanya aku selalu menyalahkan diri sendiri, merasa kecewa, merasa hidup ini tidak ada artinya. Apalagi keluarga kecil kami belum dikaruniai anak.

Seringkali aku selalu menipu diri sendiri, kalau itu bukan masalah yang perlu dipusingkan. Lupakan saja. Pendam dalam-dalam. Dan ternyata, hal itu merupakan bom waktu. Dan aku harus menemukan solusinya sebelum benar-benar meledak. Untung saja Barokallah, sudah takdirnya, aku mendapatkan kesempatan mengetahui tentang DELIMA PROJECT.

Jadi, pada sebuah workshop Writing Therapy oleh Delima Project yang aku ikuti, hari Sabtu tanggal 4 Februari 2017 kemarin, hal-hal yang pernah terjadi pada kita, yang merupakan masalah yang belum selesai, atau dengan kata lain "unfinished business", itu pasti akan tersimpan di dalam memori alam bawah sadar kita. Dan sadar atau tidak sadar, terkadang hal itu tergali kembali ke permukaan. Misal, membuat kita tiba-tiba merasa sangat sedih tanpa sebab, merasa ingin menangis tanpa sebab, merasa kesal tanpa sebab. Ternyata emosi ini merupakan bagian dari memori yang terekam di dalam alam bawah sadar. Dalam sesi workshop ini, terdapat 3 tahapan yang disampaikan oleh 3 trainer yang berpengalaman di bidangnya masing-masing.

Dari workshop inilah aku menyadari kalau semua masalah yang aku pikir sudah selesai dan tidak perlu dipikirkan, ternyata masih tersimpan di dalam alam bawah sadarku. Dan terkadang hal itu berpengaruh pada kondisi emosi, di mana aku tiba-tiba menjadi sedih tanpa sebab, gelisah, dan emosi lainnya. Dalam workshop ini, selain dijelaskan mengenai teorinya, para peserta workshop langsung diberikan praktek untuk menuliskan sebuah Dialog Journal Therapy, dengan seseorang yang kita rasa ingin kita selesaikan masalahnya. Dan uniknya, hanya dalam waktu kurang lebih 30 menit, sebuah percakapan mengalir di dalam tulisan kita yang tadinya tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Air mata pun tak kuasa tertahan ketika menuliskannya. Rasanya seperti sedang berbicara langsung. Padahal mungkin saja ketika saya benar-benar sedang berhadapan dengan dia, mulut saya akan terkunci rapat dan tidak bisa mengutarakannya dengan baik.





Ya, ternyata menuliskan semua perasaan yang selama ini kita pendam lebih mudah daripada memikirkannya. Kalau hanya dipikirkan, sudah capek ditambah stress, hati malah bertambah gelisah. 

Seseorang boleh saja tampak tenang di luarnya, namun tidak ada seorang pun yang bisa mengukur kedalaman hati seorang manusia kecuali Allah, Tuhannya Manusia. Namun, ada kalanya diri sendiri pun tidak memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirinya. 

Sebelumnya, mungkin kita pernah mendengar yang namanya Writing Therapy, dan kita mencoba untuk melakukannya seorang diri. Tapi ternyata hal itu tidak cukup. Karena perjalanan jiwa setiap anak manusia itu berbeda-beda, sehingga memerlukan penanganan yang juga tepat. Itulah nilai plus dari Delima Project ini. Selain kita dibimbing untuk menulis, kita pun akan dibimbing oleh psikolog yang sudah ahli di bidangnya. Kita pun akan semakin mudah menggali jiwa kita yang terdalam. Mungkin sebagai contoh saya sendiri. Saya selalu merasa tidak ada masalah dengan diri saya. Walaupun hidup memang terkadang up and down, just like a roller coaster, tapi aku bahagia dengan hidupku saat ini.

Namun ada saatnya, di mana terkadang aku merasa sedih, down dan tidak berdaya, bahkan seringkali menyalahkan diri sendiri yang tidak memiliki keahlian atau kelebihan apapun. Tidak bisa melakukan segala sesuatu dengan baik, tidak bisa kerja dengan baik, anak manja yang tidak bisa melakukan apapun dengan baik. Ya ampun, menuliskan kalimat ini saja sudah membuat aku menitikkan air mata. Iya, terkadang ada saat di mana aku merasa tidak bisa melakukan apapun dengan baik, terlalu bergantung pada orang lain. Beruntung saat ini aku memiliki suami yang sangat penyayang. Mau seceroboh apapun, dia tetap sayang. (Ya iyalah, udah jadi istri atuhlah, masa enggak disayang?)

Jadi, intinya, setelah mengikuti one day workshop ini, aku jadi memahami apa yang selama ini kadang terasa mengganggu. Walaupun mungkin belum sepenuhnya selesai, karena berhubungan dengan orang lain, tapi setidaknya aku sudah memahami sesuatu. Secara bertahap, semuanya butuh proses, pasti akan selesai dengan baik.

Jadi, pertanyaan besarnya, apa itu DELIMA PROJECT?

ki-ka : Nuzulia Rahma, Deka Amalia, Risma El Jundi
Founder Delima Project


Delima Project diinisiatori oleh Deka Amalia, Nuzulia Rahma dan Risma El Jundi sejak 2016 dan launching pada Februari 2017.

  • Deka Amalia (Dosen Sastra, Trainer dan Founder Women Script Community)
  • Nuzulia Rahma Tristinarum (Praktisi Psikologi, Trainer, Therapist)
  • Risma El Jundi (Novelis, Penulis buku motivasi dan memoar, Trainer Private Writing, Founder care GBS)
Program yang memfokuskan pada terapi jiwa yang dituangkan lewat teknik menulis.
Program Writing Therapy DELIMA PROJECT terdiri dari:
  1. 1 day Workshop
  2. 2 days Workshop
  3. 3 days Workshop
  4. 3 months Training.
Harapan setelah mengikuti Writing Therapy, peserta akan menghargai perjalanan jiwanya. 
Mensyukuri perjalanan hidupnya.
Menerima perasaan yang hadir.
Menyayangi diri sendiri.

suasana di kelas workshop

Dalam workshop ini, beberapa hal yang paling membekas di dalam diri saya adalah

  1. KENALI DIRI SENDIRI. Kami satu persatu ditanyakan, "Siapakah kamu?" Tentu saja awalnya saya bingung harus menjawab apa. Akhirnya saya jawab sesuai bio media sosial yang selama ini saya tulis, "I'm a very lucky wife." Karena sepertinya, satu kalimat itu memang merupakan semacam motivasi untuk saya agar lebih bersyukur, dengan satu karakter saya yang sebenarnya gampang banget menyerah kalau kondisi tidak seperti harapan. Ternyata kalimat yang pernah asal saya tulis itu, benar-benar mempengaruhi kejiwaan saya. Jadi, saya semakin mengenali diri sendiri, "Yes, you're a very lucky wife, Ninna." 
  2. MAAFKAN DIRI KAMU SENDIRI. Ya, mungkin saja kita bisa memaafkan orang lain. Namun, terkadang kita lengah untuk memaafkan diri sendiri. Terkadang kita terlalu keras pada diri sendiri, sehingga justru malah membuat kita menjadi lebih tertekan dan gelisah. 
  3. TERUS MENULIS. Menurut Graham Greene : "Writing is a form of therapy; sometimes I wonder how all those who do not write, compose, or paint can manage to escape the madness, melanchonia, the panic and fear which is inherent in a human situation." Menulis merupakan semacam terapi; Terkadang saya heran bagaimana mereka yang tidak menulis, menggubah, atau melukis dapat mengatasi kegilaan, melankonia, rasa panik dan takut yang melekat di dalam situasi manusia. Jadi, teruslah menulis, sebagai terapi hati dan pikiran, dan tentu saja menstabilkan rasa penat.
Semua peserta workshop bersama trainer


Sekian curhat dari saya. Semoga info ini bermanfaat. Oh ya, ingin tahu lebih lanjut tentang DELIMA PROJECT? Please leave a message ya ;) Atau bisa menghubungi DEKA AMALIA RIDWAN, Facebook Deka Amalia Ridwan.






Senin, 06 Februari 2017

Side Story of Calibri Serena

781



Matahari bersinar dengan sangat terik, tapi kehidupan kota Jakarta tetaplah seramai, sesibuk dan semacet seperti biasanya. Namun, di sebuah rumah di daerah Depok, terlihat kesibukan yang tidak seperti biasanya.
Seorang anak perempuan yang sedang beranjak remaja, berumur 11 tahun, berdiri dengan menyendiri di balik salah satu dinding rumah. Dia merasa bingung dan takut dengan banyaknya orang yang keluar masuk ke dalam rumahnya. Sebagian besar dari mereka datang dengan berpakaian serba hitam dan mengeluarkan air mata. Bahkan Ayah pun menangis dan terkadang tidak kuasa menahan emosi sehingga beberapa kali memutuskan untuk menyendiri sebentar di dalam kamar.
“Calibri, apa yang kamu lakukan di sana? Keluarlah, banyak tamu yang datang dan menanyakanmu.” Ibu Dyah, tetangga rumah yang sudah sangat akrab dengan keluarga mencoba mengulurkan tangannya pada anak perempuan itu, Calibri Serena. Tampak senyum lembut di wajahnya yang masih terlihat ayu walaupun kerut di sana-sini.
Calibri menurut dan membalas uluran tangan Bu Dyah. Kemudian beliau membawanya menuju ruang tengah. Dan seperti yang sudah diduga sebelumnya, semua tamu yang hadir satu persatu datang memeluknya dan mengucapkan bela sungkawa. Calibri hanya bisa pasrah menerima semua pelukan itu. Dia bukannya tidak tahu atau tidak peduli, namun walaupun sang Ibu sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir, Calibri sama sekali tidak menangis. Entah bagaimana, dia merasa, kalaupun dirinya sudah tidak bisa mengajak ngobrol Ibu di dunia ini, dia selalu merasa Ibu hidup, entah di mana, dan suatu saat mereka akan kembali bertemu.
***

Sebuah batu terlempar cukup jauh, tidak mengira kalau lemparan itu berasal dari sebuah tangan kurus dan kecil milik Calibri. Calibri memang terlambat tumbuh, di usia 11 tahun, dia belum mendapat haid pertamanya, dadanya pun masih rata. Tubuhnya terlampau kurus. Namun bukan karena dia tidak doyan makan. Sebaliknya, porsi makan anak ini bisa dua kali porsi anak seumuran dirinya.
Calibri sama sekali tidak suka berada di tanah lapang ini. Tidak ada bangunan rumah dan pohon-pohon pun hanya sedikit, digantikan oleh beratus-ratus gundukan tanah dengan batu nisan di salah satu ujungnya.
Walaupun ayah menyuruhnya untuk selalu berdiri di sampingnya, pada kenyataannya dia diam-diam kabur dan menjauh dari lokasi ibu dimakamkan. Tentu saja hal itu membuat keributan kecil pada prosesi pemakaman. Untung saja Calibri membawa telepon genggam, sehingga ayah bisa mengetahui posisinya.
“Aku tidak suka berada di sana, Ayah. Terlalu banyak orang yang menatapku. Ayah kan tahu aku tidak suka berada di tengah-tengah orang seperti itu.” Ucap Calibri membalas telepon Ayah.
Ayah menghela nafas panjang, “Baiklah, tapi jangan jauh-jauh, setelah acara selesai, Ayah akan meneleponmu lagi.”
“Baiklah.”
Setelah itu telepon pun ditutup. Namun, peringatan ayah tidak terlalu jelas. Ayah hanya bilang jalan jauh-jauh. Sedangkan ukuran jauh menurut ayah dan dirinya berbeda. Dan tak jauh dari posisi Calibri sekarang merupakan pagar pembatas area pemakaman dengan jalan raya. Dia memutuskan untuk berjalan keluar. Yang penting kan jangan jauh-jauh.
Begitu sampai di luar pagar, jalan raya begitu lengang dan sepi. Kendaraan yang lewat bisa dihitung dengan jari. Calibri bermaksud menyeberang karena dia melihat sebuah kolam ikan yang terlihat cukup menarik. Hampir saja dia tertabrak oleh sebuah mobil kalau tidak diselamatkan oleh seorang pemuda yang kebetulan sedang lewat.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya pemuda tersebut yang kelihatannya baru saja pulang kuliah.
Calibri tidak bisa menjawab, dia terlalu kaget ketika badannya mendadak ditarik dengan keras dan jatuh di atas tanah berumput.
“Hei, kamu tidak apa-apa?” ulang pemuda tersebut.
Perlahan-lahan mata Calibri mulai beralih memandang wajah pemuda tersebut. Ah, walaupun sudah pantas disebut pria, namun masih ada garis anak-anak di wajahnya, mungkin baru saja masuk kuliah. Tiba-tiba ada sebuah sensasi aneh hinggap di dasar perutnya. Seperti berpuluh-puluh kupu-kupu yang beterbangan di dalam dasar perutnya, geli namun menyakitkan. Dan Calibri tidak bisa memahami perasaan yang sedang dialaminya sekarang.
Merasa tidak akan mendapatkan jawaban, pemuda ini memutuskan untuk membantu Calibri berdiri. Ditariknya tubuh Calibri dengan sangat mudah. Pemuda ini memang bertubuh lumayan besar, 178 cm. Sedangkan saat ini, tinggi Calibri hanya 140 cm.
Akhirnya Calibri tersadar juga, “Te-terima kasih.” Ucapnya dan langsung menunduk. Pemuda ini tidak bisa dibilang super ganteng seperti foto model, tapi wajahnya cukup menarik, dengan kulit putih, hidung mancung, rambut lurus dan kaca mata yang membingkai wajahnya.
“Tidak masalah. Lain kali hati-hati. Memangnya kamu mau kemana?”
“Aku hanya tertarik melihat kolam ikan di seberang sana.” Tunjuknya. Tidak aneh, pada saat Calibri berumur 11 tahun, wilayah ini memang masih sangat sepi dan banyak kebun-kebun.
“Oh..., lalu kamu sama siapa? Apakah sendirian?”
Calibri menggeleng, “Ada ayah, tapi ayah harus terus mengikuti acara pemakaman ibu di dalam sana.”
Pemuda ini pun kaget mendengar penuturan Calibri yang begitu polos. “Ibumu meninggal dan sedang dimakamkan di dalam sana?”
Calibri mengangguk pelan. Pemuda ini tidak habis pikir. Anak perempuan mana ketika ibunya sedang dimakamkan dia malah memilih pergi keluar seorang diri? 
Atau mungkin sebaiknya dia berprasangka baik saja pada anak perempuan ini. Boleh saja dia tidak menangisi kepergian ibunya, tapi jauh di dalam hati anak perempuan ini, dia sedang menangis kehilangan. Oleh sebab itu, tanpa sadar, karena tidak tahan, anak perempuan ini memutuskan untuk menyingkir jauh-jauh dan lebih memilih untuk tidak melihat jasad ibu dimasukkan ke dalam tanah untuk selamanya. Ya, pasti begitu alasannya!
Pemuda ini menepuk pundak Calibri pelan dan tersenyum lembut, “Kalaupun kamu mau menangis, tidak akan ada yang menyalahkanmu kok!”
Mendapat tepukan lembut tersebut, membuat Calibri terhenyak kaget dan menoleh. Untuk kedua kalinya dia memandang wajah pemuda di hadapannya ini, dan hal itu semakin membuatnya tidak nyaman. Namun demi sopan santun dia pun membalas.
“Terima kasih, Kak...,”
“Ian, panggil aku Ian.” Senyumnya.
***

“Ayaahh..., sarapan sudah siap!” teriak Calibri satu tahun kemudian.
Kehidupan pun berjalan dengan normal kembali. Walaupun beberapa kali ayah sempat terlihat tidak ceria dan sedih setiap kali merindukan Ibu, namun segalanya berlangsung dengan normal. Saat ini ayah sedang datang berkunjung setelah empat bulan tidak bertemu dengan Calibri. Ayah harus bekerja di luar negeri. Setidaknya dalam setahun Ayah bisa 2-3 kali pulang ke tanah air.
Calibri tetap tinggal di Indonesia, dititipkan pada bu Dyah, seorang janda, yang mengontrak di rumah sebelah. Sejauh ini berjalan dengan lancar, uang kiriman dari Ayah selalu lebih dari cukup, bahkan Bu Dyah pun juga mendapat jatah bulanan, sebagai ucapan terima kasih telah menjaga Calibri selama Ayah tidak ada. Kebetulan juga kedua anak lelaki Bu Dyah kuliah di luar kota, sehingga dengan senang hati wanita paruh baya ini menjaga Calibri dan rumahnya.
Perlahan-lahan tubuh Calibri semakin tinggi dan berisi, tidak gemuk namun membuatnya jadi terlihat atletis karena bekerja keras membersihkan rumah setiap harinya. Tidak perlu dipanggil dua kali, ayah sudah muncul di dalam dapur.
“Hmmm..., kelihatannya lezat nasi goreng ini.” Puji Ayah.
“Ya, memang selalu terlihat lezat karena setiap hari juga aku buat nasi goreng hanya saja beda variasi, Ayah.” Senyum gadis ini merasa geli dengan tingkah ayah.
“Tidak masalah. Kalau seperti ini, Ayah yakin kamu pasti bisa jadi ibu rumah tangga yang sangat baik dan disayang oleh suami.”
Mendengar ucapan ayah, anak gadis mana yang tidak akan merasa malu? Calibri pun salah satu yang akan merasa malu mendengar ucapan itu. Wajahnya yang berkulit coklat sekarang menjadi berwarna merah. Melihat perubahan raut wajah putri tunggalnya tentu saja membuat ayah tertawa bahagia. Beliau pun memeluk Calibri dengan penuh sayang.
***

Walaupun tubuh Calibri sudah banyak berkembang dan juga atletis, tapi Calibri tetap tidak menyukai pelajaran olahraga. Kalau di kelas, Calibri bisa berlagak agar tidak disadari oleh seluruh teman-teman sekelas akan keberadaannya. Dia akan sangat diam dan duduk saja dipojokan belakang kelas tanpa berusaha untuk dikenali.
Tapi ketika pelajaran olah raga, usaha itu akan sia-sia. Sebagai contoh ketika latihan mengoper dalam basket, mereka harus berpasang-pasangan, otomatis hal itu membuatnya harus berteguran dengan salah seorang teman. Ataupun ketika latihan servis dalam voli, senam, sepak bola, tidak ada olah raga yang bisa dilakukannya sendirian saja. Pasti akan melibatkan anak lainnya dan hal itu benar-benar menyulitkan Calibri. Bukan karena sombong dan tidak mau bertemu, namun lebih disebabkan karena Calibri tidak tahan setiap kali mereka memandangi dirinya atau ketika dia harus balik menatap wajah mereka.
“Calibri Serena,” panggil Pak Omar, guru olah raga mereka di kelas satu SMP.
Walaupun enggan, Calibri tetap mengangkat tangannya. Kemudian dia bangkit dari duduknya yang terletak agak jauh dari anak-anak lainnya dan berjalan menghampiri Pak Omar.
Kali ini merupakan pengambilan nilai Basket. Dia diharuskan mendribble, passing, lay up, dan memasukkan bola ke dalam ring. Tentu saja dia tidak akan sendirian. Dia akan berpasangan dengan seorang anak perempuan.
“Vanda Permata,” panggil Pak Omar berikutnya.
Berdirilah seorang anak perempuan yang berwajah cantik dan menarik, dengan kulit putih, hidung mancung, mata besar, bibir tebal dan rambut ikal sepunggung. Dia terlihat sangat percaya diri. Dipasangkan dengan seorang anak perempuan yang bahkan sebelumnya tidak pernah dia ketahui keberadaannya di dalam kelas, tentu saja membuatnya menjadi menganggap remeh Calibri.
Setelah Pak Omar meniupkan peluit, Calibri segera mendribble bola dengan lancar sampai ke ujung lapangan, sedangkan Vanda yang hanya menang di gaya, merasa kesulitan menggiring bola merah tersebut.
Setelah itu peluit kembali berbunyi, Calibri mengoper bola ke Vanda sambil menggeser ke samping, Vanda berusaha untuk menangkapnya namun kesulitan setiap kali dia harus melakukannya sambil bergerak ke samping, sehingga beberapa kali dia menjatuhkan bola tersebut, bahkan operan bolanya beberapa kali tidak tepat sasaran.
Peluit berbunyi untuk yang ketiga kalinya, Calibri berlari pelan menuju ring dan dengan gerakan anggun, dia melompat dan melepaskan bola masuk ke dalam ring dengan mulus, atau yang biasa disebut Lay up. Namun begitu giliran Vanda yang melakukan lay up, dia mendapat kesulitan. Mendribble saja susah, ini ditambah harus melompat dan memasukkan ke dalam ring. Vanda merasa kesal sekali.
Tes pengambilan nilai terakhir, memasukkan bola dari posisi diam beberapa meter di depan ring.  Sekali lagi, Calibri bisa melakukannya dengan sangat baik. Walaupun dia malas olah raga, namun dia memang selalu mendapat nilai bagus dalam pelajaran ini.
Sebaliknya, Vanda sudah tidak tahan. Boro-boro bola masuk ke dalam ring, sampai ke ring saja tidak bisa. Tanpa menyentuh ring, bola sudah jatuh di atas tanah lagi. Tentu saja dia mendapatkan nilai yang jelek di mata pelajaran ini.
Setelah itu, Vanda menatap Calibri dan merasa harga dirinya terinjak-injak. Padahal dia merupakan gadis populer di sekolah ini. Dia memang tidak bangga dengan kemampuan olah raganya, namun dikalahkan dengan telak oleh seorang anak perempuan yang sama sekali tidak diketahui keberadaannya sebelumnya, tentu saja hal itu sangat-sangatlah... memalukan!
***

Calibri sedang merasa keheranan. Pasalnya buku tugas matematika miliknya tidak bisa ditemukan di dalam tas. Padahal dia yakin sekali kalau sudah membawanya. Padahal buku itu harus dikumpulkan sekarang untuk dinilai oleh Pak Rahmad. Dia pun menjadi sangat panik. Murid-murid yang lain satu persatu sudah mengumpulkan buku tugasnya, sedangkan Pak Rahmad belum masuk ke dalam kelas.
“Cal, buku kamu mana? Pak Rahmad bentar lagi masuk.” Tegur Joko, sang ketua kelas, yang bertugas mengumpulkan.
 Calibri menggeleng pelan, tapi wajahnya sudah sangat pucat. “Buku aku tidak ada.” Gumamnya pelan nyaris tidak terdengar oleh Joko.
“Coba keluarin semua isi tas kamu. Kali aja nyempil.” Usul Joko merasa kasihan pada teman sekelasnya yang terkenal sangat pendiam dan penyendiri. Makanya walaupun yang lain duduk berpasangan, karena jumlah murid di kelas ganjil, Calibri harus duduk sendirian.
Calibri menurut, dia mengeluarkan seluruh isi tasnya yang hanya berupa buku pelajaran dan alat-alat tulis. Diperiksanya satu persatu buku-buku yang dibawanya, yang memiliki sampul buku yang sama, yaitu berwarna coklat.
“Ada?”
Calibri menggeleng.
“Ketinggalan di rumah?”
“Aku sudah membawanya, kok!”
“Terus gimana, dong? Aku musti naro buku ini di atas meja guru sebelum Pak Rahmad dateng!”
“Ya udah, kumpulin aja, Ko, nggak usah nungguin aku. Nanti aku lapor aja ke Pak Rahmad begitu beliau masuk kelas.”
Tidak menjawab, Joko segera berjalan ke muka kelas dan menyimpan semua buku-buku yang sudah dikumpulkannya ke atas meja guru. Kemudian dia sendiri pun duduk di kursinya.
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya berumur hampir lima puluh tahun, berkumis tebal, berbadan tambun dan berkulit gelap, masuk ke dalam kelas. Beliau adalah Pak Rahmad.
Joko memimpin seluruh murid untuk memberi salam kepada Pak Rahmad. Setelah itu semua pun hening, sementara Pak Rahmad langsung menuliskan sebuah rumus di atas papan tulis. Pak Rahmad memang terkenal galak, namun cara mengajarnya mudah dimengerti, sehingga murid-murid segan padanya.
Saat itulah, Calibri bangkit dari kursinya dan maju ke depan kelas. Walaupun sebenarnya merasa sangat grogi dan sebisa mungkin menghindari tatapan mata seluruh teman-teman satu kelas, namun entah mengapa, ketika dia melewati meja Vanda, dia menolehkan kepalanya sedikit dan melihat senyum di wajah anak perempuan itu.
Calibri langsung menunduk lagi. Entah mengapa setelah melihat wajah Vanda, dia seperti melihat bayangan tubuh Vanda yang berjalan masuk ke dalam kelas bersama kedua orang sahabatnya. Vanda langsung berjalan menuju meja miliknya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Namun lamunan itu terhenti ketika dia sudah berdiri tepat di samping tubuh Pak Rahmad yang baru saja selesai menulis materi pelajaran untuk hari ini. Tentu saja Pak Rahmad merasa heran melihat salah satu murid terpintarnya sekarang berdiri di depannya dengan kepala yang tertunduk dalam.
“Ya, kenapa, Nak Calibri?” tanya Pak Rahmad dengan suara baritonnya yang sanggup memenuhi seluruh isi kelas walaupun beliau hanya bermaksud berbicara pelan.
“Anu, Pak, sebelumnya saya minta maaf, dan saya sangat yakin kalau sebelumnya saya membawa buku tugas saya. Tapi entah mengapa ketika ingin dikumpulkan, buku itu tidak bisa saya temukan di dalam tas.” Jelas Calibri tanpa basa-basi.
Pak Rahmad terdiam mendengar penjelasan itu. Beliau agak merasa takjub dengan keberanian anak ini. “Apakah tertinggal?” tanya beliau lagi.
Calibri menggeleng, “Saya tidak tahu, Pak, karena sebelumnya saya yakin kalau saya membawanya. Tapi semoga saja tertinggal.”
Saat ini dia sudah sangat pasrah. Entah apa yang akan dilakukan Pak Rahmad padanya, dia sudah tidak peduli. Saat inilah lamunan yang tadi sempat terhenti, kembali berlanjut. Dia kembali melihat bayangan tubuh Vanda yang berjalan menuju lemari buku dan menyimpan sesuatu di dalam sana. Setelah itu semuanya menghilang. Calibri menggelengkan kepalanya. Mungkinkah...?
“Ma-maaf, Pak, tapi boleh saya permisi sebentar?” tanya Calibri dan tanpa menunggu jawaban Pak Rahmad, dia berjalan menuju lemari buku di sudut kelas dan membukanya.
Lemari buku ini sebenarnya hanya berisi buku absen, buku panduan untuk guru dan foto-foto kelas, sehingga jarang ada murid-murid yang membukanya kecuali petugas piket. Calibri membukanya, dan memeriksa di bawah buku absen dan perkembangan kelas. Benar saja, dia mendapati bukunya berada di sana. Calibri mengambil buku tersebut dan berjalan kembali mendekati Pak Rahmad dengan wajah yang masih terheran-heran.
“Apa itu, Nak Calibri?”
“Aku... menemukan buku tugasku, Pak...,” jawab Calibri pelan lebih merasa sangat heran dan kebingungan daripada merasa senang.
***

“Aku masih tidak habis pikir, bagaimana dia bisa menemukan bukunya dengan begitu cepat. Apakah ada salah satu di antara kalian yang membocorkannya?” tanya Vanda dengan gemas kepada teman-teman satu clique yang seluruhnya berjumlah tiga orang termasuk dirinya. Mereka bertiga memang cantik-cantik, kaya, lumayan pintar dan populer.
Kedua anak perempuan itu pun menggeleng.
“Untuk apa kami membocorkannya? Lagipula hal itu juga menjadi kesenangan bagi kami ketika melihatnya dihukum oleh Pak Rahmad.” Jawab Stefany, gadis blesteran Inggris dan bertubuh paling tinggi.
Vanda menggeleng masih merasa tidak yakin. Otaknya kembali berputar merencanakan keisengan selanjutnya untuk Calibri.
“Lagipula kamu ada dendam apa sama anak itu sih? Perasaan dia kan pendiem banget, nggak ada teman yang deket sama dia. Apa hanya karena dia ngalahin kamu dalam pengambilan nilai basket?” Lanjut Deasy yang berkaca-mata. Padahal Vanda sudah sering membujuknya menggantinya dengan contact lens saja, tapi Deasy tidak menurut. Bukannya tidak mau, tapi mata Deasy ternyata sangat sensitif. Sehingga setiap dia memakai contact lens, pasti langsung merah dan berair.
Vanda hanya mengangkat bahunya, “Mungkin itu salah satunya.”
Stefany dan Deasy hanya geleng-geleng. Vanda memang suka aneh dan iseng. Tapi disitulah letak kesenangannya ketika berteman dengannya. Rasanya tidak pernah membosankan.
***

Vanda memang anak perempuan yang agak keras kepala. Ketika dia merencanakan sesuatu, pasti harus terlaksana. Rencana mengisengi Calibri pun dimulai.
Rencana berikutnya adalah dengan menyembunyikan tas Calibri pada saat istirahat siang ketika kelas sedang kosong, karena semua murid memang dilarang berada di dalam kelas, hal ini dilakukan sebagai bentuk keamanan agar tidak ada barang yang hilang. Tapi seperti sebelumnya, walaupun perlu beberapa saat, Calibri bisa menemukan tasnya kembali di dalam kelas sebelah, tepatnya di dalam lemari juga.
Kemudian berlanjut pada pakaian olah-raga milik Calibri yang dengan sengaja dilempar Vanda keluar kelas, melewati balkon dan akhirnya jatuh di kolam ikan di taman sekolah yang kebetulan tepat berada di bawah kelas. Namun Cerisa tidak ambil pusing.
Vanda jadi bertambah gemas ketika rencana-rencananya ternyata tidak pernah berjalan mulus. Bahkan ketika dia hendak menyorongkan kakinya ketika Calibri hendak berjalan melintas di depannya pun, hal itu dengan sangat mudah dihindari olehnya.
Memang lambat laun, Calibri merasa agak kewalahan untuk melalui semua itu. Dia sendiri pun terheran-heran kenapa Vanda iseng banget pada dirinya. Padahal jelas-jelas bisa dilihat dalam mata Vanda tidak ada kebencian sedikit pun di sana.
“Kamu aneh banget, sih!” tanya Vanda suatu hari ketika kebetulan hanya ada mereka berdua yang sedang duduk di depan pintu ruang Tata Usaha.
“Aneh?” tanya Calibri terheran-heran.
“Ya, aku selalu melihatmu seorang diri. Padahal kita ini kan makhluk sosial, sudah sepantasnya kau bersosialisasi dengan teman-temanmu.” Lanjut Vanda.
Calibri tidak langsung menjawab, sebenarnya dia agak merasa bingung harus menjawab bagaimana, karena baginya, ucapan Vanda itu bukanlah merupakan kalimat tanya yang perlu dijawab. “Terima kasih.”
Mendengar jawaban Calibri yang agak tidak nyambung, membuat Vanda terheran-heran. “Kenapa berterima kasih?”
“Karena kupikir itu balasan yang tepat untuk kalimat yang kau ucapkan padaku.” Jawab Calibri agak merasa jengah dengan segala percakapan ini. Dia ingin Vanda segera pergi dan membiarkannya duduk seorang diri.
Tentu saja Vanda langsung tertawa keras, “Kau memang anak aneh!”
Setelah mengatakan itu, Vanda pergi begitu saja. Meninggalkan Calibri dalam tanda tanya besar. Dia benar-benar tidak paham di mana letak kelucuan dalam perbincangan mereka sampai Vanda harus tertawa keras seperti itu.
Vanda boleh saja mengajaknya berbincang-bincang seolah tidak ada masalah. Namun tetap saja, keisengan Vanda dan teman-temannya tetap tidak berhenti sampai mereka naik ke kelas berikutnya.
***

--bersambung